Jangan Asal Dalam Berkata Insya Allah

07:47 0

Makna kata insya allah “Jila Allah menghendaki” dewasa ini sudah sangat lumrah diucapkan diberbagai kalangan. Baik anak anak, remaja, pemuda / pemudi  yang sudah mulai berjanji kepada temannya senantiasa menggunakan kata ini di kesehariannya.

Sebenarnya sangat baik bila dilihat dari segi penggunaannya yang mengarah kepada kehidupan islami.  Akan tetapi banyak yang menganggap sepele kata insya allah ini. Misalnya saja saat berjanji yang potensi untuk tidak menepatinya lebih besar dibanding potensi untuk menepatinya. Maka untuk mengamankan diri dan menyenangkan lawan bicara maka dia akan menggunakan kata insya allah. Bukan hanya kepada sesama muslim, bahkan ketika berjanji kepada teman, rekan kerja, ataupun atasan yang non muslim kata insya allah ini sudah sangat menjamur. Terlebih lagi kata insya allah ini kadang digunakan oleh non muslim.

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ tanpa (dengan menyebut), ‘Insya Allah.’” [QS. Al-Kahfi: 23-24]

Sebuah kisah yang terdapat dalam surah Al – Kahfi (penghuni gua). Menurut riwayat ada beberapa orang quraisy bertanya kepada nabi Muhammad SAW tentang roh, ashabul  kahfi dan zulqarnain. Lalu beliau menjawab datanglah kepadaku besok pagi agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan insya allah (Jika Allah menghendaki). Tetapi ternyata besoknya wahyu tentang hal itu tidak datang, sehingga nabi Muhammad SAW tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Maka turunlah ayat 23-24 Surah Al kahfi ini sebagai pelajaran kepada nabi Muhammad SAW. Bilamana nabi Muhammad SAW lupa mengucapkan insya allah.

Jika Allah menegur nabi dengan menurunkan ayat ini, maka kita yang hanya bergelar sebagai hamba dan pengikut nabi Muhammad SAW harus lebih terasa dengan teguran yang menjadi ayat suci tersebut.

Alhamdulillah kata insya allah ini sudah menjamur. Tapi banyak yang asal berlontar dan tidak paham maknanya, seolah mereka non muslim yang hanya ikut - ikutan berlontar. Insya Allah membuat sebuah perjanjian menjadi lebih berarti karena pada saat mengucapkan kita melibatkan Allah, Kita hanya bergantung kepada Allah Swt untuk menentukan sesuatu itu bisa atau tidak dilakukan. Bahkan bila Allah menghendaki, masih saja ada, yang dengan sengaja mengingkari kehendak Allah tersebut.

Kata Insya Allah, bila disepelekan bisa saja membuat lawan bicara tidak percaya lagi ketika kita menggunakannya untuk kedua kali. Semisal, ketika awalnya berjanji menggunakan kata “Insya Allah”, dan ketika berhalangan hadir (tidak oleh kecelakaan dan bencana, tetapi dengan sengaja), maka ketika berjanji lagi untuk selanjutnya akan mengurangi kepercayaan orang yang pernah kita kecewakan dengan janji yang dibuat. Jika seperti itu, bisa memunculkan pertanyaan lagi bagi orang yang menerima janji, “apakah tadi’ Insya Allah iya, atau insya allah enggak?”.

 Janji bila sudah dibuat maka kita harus bertanggung jawab untuk memenuhinya. Karena janji merupakan hutang, bisa saja hal tersebut menjadi penghalang manusia memasuki surga. Maka dari itu jangan asal berlontar Insya Allah.

Muhammad Syukur. Bantimurung, 27 Juli 2016

Malino, Kota Bunga dan Air Terjun

13:51 1
Masih dalam suasana lebaran, dihari kedua tanggal 07 Juli 2016 Masehi (02 Syawal 1437 Hijriah). Merealisasikan rencana yang kemarin sempat kami susun. Berdasarkan dari pengalaman dan rekomendasi beberapa teman, akhirnya Malino menjadi salah satu tujuan yang menarik untuk dijadikan wahana liburan yang cukup panjang ini.  Berangkat pukul 08.00 dari kampung, bersama enam anggota yang pastinya sudah mempersiapkan bekal; makanan, bensin, mental serta doa orang tua kami melajukan sepeda motor dengan santai. Sengaja kami berangkat sepagi ini agar tidak terlalu tersengat panasnya matahari yang cukup cerah pagi ini. 

Singgah di Carangki untuk mengajak wahyu  dan Akbar, sembari meminjam alat untuk mengabadikan moment, perjalanan dilanjutkan pukul 09.30 dari Carangki, melalui Sipur lanjut ke Gowa. Ya, cukup lengan lalu lintas kendaraan di jalur ini, itulah alasan mengapa kami memilih melalui jalan ini. selain menghemat waktu, bensin dan jarak tempuh jika harus lewat Makassar, kondisi jalan pun cukup mulus dengan beton dan sesekali aspal. Walaupun sempat berpikiran salah jalur, tapi itu semua dapat teratasi dengan bertanya ke warga sekitar. Bagaimana tidak, setahun yang lalu, jalan belum semulus ini, masih dengan  kondisi yang belum terlalu memadai. Tapi alhamdulillah langkah pemerintah setempat terlihat di bagian ini. 

Setelah menempuh waktu sekitar kurang lebih 2 jam dari Maros, akhirnya aroma kota bunga mulai terasa, dingin yang menusuk sampai ketulang menandakan bahwa cuaca sudah tidak bersahabat lagi dengan kondisi yang dibawah dari  kampung sendiri. Padahal, terik matahari sangat cerah. Menelusuri tepian sungai yang entah berawal dari mana, kami terus menlajukan motor mengikuti penanda jalan (Km ke malino). 

Hutan Pinus
Kami memutuskan untuk langsung ke kebun pinus, untuk menikmati rindangnya pohon pinus yang tidak ada di kampung kami. suasana gunung sangat terasa. Pantas tempat ini dikunjungi banyak turis dan orang orang chinese yang memang suka dingin. Tepat di lokasi ini, ada banyak kegiatan ekonomi yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Mulai dari berdagang, baik makanan ringan ataupun cemilan dan bahkan rumah makan, pemanfaatan area parkir, menunggangi kuda, yang kudanya milik dari warga lokal, dan area outbond bersama keluarganya. Juga terdapat beberapa arena permainan standar.   Menghabiskan beberapa jam ditempat ini, sambil berbagi cerita dan hal lucu merupakan seingan untuk sebuah perjalanan. Yang pasti setiap tempat  tidak akan seru jika tidak diabadikan. 

 Air Terjun Takapala.
Takapala
Tak jauh  dari lokasi pengisian bensin, (baca;pertamina) yang sepertinya satu satunya di Malino. Arahkan motor anda ke kanan. Setelah terdapat sebuah papan nama besar berwarna biru dan sablon putih bertuliskan (TAKAPALA kurang lebih 4 km) kami pun memasuki tempat itu setelah melaksanakan sholat duhur. Alhasil ada bebrapa air terjun yang harus  terlewati, seperti air terjun ketemu jodoh, dll. Pasti ada yang menanyakan biaya / karcis masuk ke air terjun takapala ini?, Harganya sangat bersahabat, hanya Rp. 3000 per orang.  Tak sebanding dengan pemandangan menarik yang diberikan oleh sang maha kuasa.
Saatnya menyentuh bekal, perut yang sudah mulai keroncongan membuat kami tak segan mengeluarkan burasa' dari tasnya Akbar. Setelah makan dengan suguhan anak kostan. Model perumahan yang dilewati untuk menuju ar terjun ini mirip di Brasil, rumah yang bertingkat tingkat karena dibangun diatas tanah yang tidak rata. tapi itulah yang menjadi ciri khas dari tempat ini. Air jatuh yang cukup tinggi, membuat bebatuan yang menopangnya terlihat artistik. Tentunya tak lupa mengeluarkan segala peralatan penunjang untuk mengambil gambar. Ada beberapa lokasi mengambil gambar di tempat ini. salah satunya di bagian atas, yang membuat kami sejajar dengan bagian tengah air terjun. Di bagian lain yang diberi pembatas besi agar pengunjung bisa merasa aman pada saat berfoto. dan bagian akhir di kawah air terjun. Banyak pengunjung yang memanfaatkan untuk mandi sembari menikmati dinginnya air alami dari pegunungan ini. Airnya cukup jernih, mengalir di sepanjang sungai yang dipenuhi dengan bebatuan. Kami berada di beberapa meter dari lokasi jatuhnya air, tapi hembusan air pun terasa sampai ketempat kami. Entah berapa volume jatuhnya air ini. 
Semakin sore, pengunjung yang datang semakin banyak. Meskipun cuaca yang sudah menampakan wajah mendung, mereka tetap berusaha menghabiskan waktu libur di air terjun Takapala Malino ini.
 
Tak Lupa kirim salam dari Malino


Ingat nih

Hutan Pinus


Taman di hutan pinus

Gema Sholatmu !!!

06:17 0

Menapa kamu sholat sampai 23 rakaat? Sedangkan teman – teman kamu dari tadi sudah pulang ke rumahnya, dan sudah tidur dengan pulas. Pertanyaan itu bukan hal yang  menarik lagi ditelinga Arul. Sudah sering dia mendengar pertanyaan seperti itu dari orang yang ada disampingnya saat melakukan sholat berjamaah. Orang orang itu sudah pasti lebih tua darinya, ada bapak bapak, remaja maupun pemuda. Hal tersebut membuat mereka iri kepada anak kecil berusia enam tahun ini.
Semangatnya tak kunjung surut meski dia tertatih  dalam sholatnya. Diantara beberapa shaf yang tersisah, dialah yang paling muda dan paling kecil. Pernah sekali saya berada disampingnya. Lirik sedikit, dia sudah hampir terjatuh karena mengantuk. Tapi ia terus memaksakan diri sampai tarawihnya sempurna.
            Dengan wajah ngantuk, dia mencampurkan sedikit senyum dan menjawab “Dirumah tidak ada orang, jadi saya tunggu bapak dan ibu selesai sholat”. Berbeda dengan anak yang lain, ia lebih mementingkan menunggu orang tuanya daripada ia merengek ingin pulang.
            Mungkin saat ini ia belum menyadari, bahwa dia adalah korban dari pemaksaan orang tuanya. Pemaksaan untuk menjadi seorang hamba yang setia, pemaksaan untuk menjadi pribadi yang berhati hebat, pemaksaan untuk menjadi calon pemuda yang bertakwa. Dan orang tuanya berharap ia berpotensi memiliki iman yang tebal untuk menghimpun beberapa iman yang masih tipis.
            Kokohnya perjuangan orang tua Arul selalu membuahkan hasil, diusianya yang masih muda belia ia mampu menjadi teladan bagi teman – temamnya yang lain. Perawakannya yang sopan mampu menjadikan posisinya ditengah pergaulan dapat dihargai dan dijadikan panutan.
            Tak hanya di lingkungan tempat tinggalnya, dia juga menjadi panutan di sekolah tempatnya belajar. Pujian senantiasa menjadikan dia percaya diri. Hebat sekali anak ini, bisa membuat iri orang tua teman temannya dan para guru.
            Satu hal yang dapat saya pelajari  dari orang tua Arul adalah, mereka sedang dalam proses membuat aturan baru dalam hidup anaknya. Aturan yang akan menjadi landasan pacu bagi kehidupan Arul. Mereka mengajarkan shalat lima waktu sebagai sandaran waktu yang tepat agar hidup anaknya tidak disia - siakan. Hidup memang sekali, tapi akan jatuh berkali kali jika tak mampu mengatur dengan aturan islamiyah. Menanamkan shalat lima waktu pun sangat perlu baginya, karena terkandung banyak kebaikan didalamnya. Selain itu menyandarkan pengaturan waktu pada shalat adalah sebuah penemuan yang luar biasa dan sangat menguntungkan. Hal ini yang akan dijadikan habit bagi Arul, ia akan mampu mengatur jadwal harian dalam hidupnya jika waktu sholat dijadikan sebagai titik tumpu segala aktivitasnya.
            Shalat adalah ibadah ukhrawi, yaitu ibadah yang membuktikan pengabdian diri kita kepada Allah swt dan rasul-Nya, itulah mengapa mereka menganggap sholat bisa menjadi tumpuan hidup semua manusia.
            Jangan biarkan nabi kita yang telah memperjuangkan ringkasnya waktu shalat menjadi kecewa karena melihat umatnya tidak sholat. Kita  adalah  pengayom bagi saudara kita yang  lain walaupun kita tak bisa menjamin syurga bagi mereka setidaknya kita membantu mereka menghindari api neraka, itulah kewajiban sesama muslim. Saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Maka dari itu peliharaah sholat karena sesungguhnya kamu tidak akan merugi di dunia dan diakhirat.

***

Menelusuk awan di ketinggian Bulusaraung Pangkep

08:11 0


Di atas awan puncak bulusaraung
Persiapan sebelum melakukan perjalanan. Hari ini kami berkumpul di rumah yudha. Sembari menunggu beberapa teman yang belum sampai. Persiapan sudah dilakukan karena seminggu sebelumnya sudah saling info barang apa yang harus disediakan. Tenda, perlengkapan makan dan masak, juga perlengkapan di malam hari (senter, lilin, kopi, dan beberapa helai kain pelapis dingin). Yang paling penting adalah cemilan.

Pukul 10.30 kami berangkat (dari Maros), setelah pamitan dan mohon doa restu kepada ibu ahmad yang juga menitipkan pesan agar namanya ditulis dikertas “Dapat salam dari puncak”. Yah, keinginan seorang ibu yang begitu mulia.

Satu jam perjalanan telah dilalui dari arah Maros menuju kaki gunung Bulusaraung. Letaknya, Setelah menemui patung KB (Keluarga Berencana) yang digencarkan di Kabupaten Pangkep yang disisi kanannya terdapat Masjid megah berwarna hijau, tinggal melajukan motor ke arah kanan, dari jalan poros (Tonasa 1) satu jalur ke wisata sejarah sumpang bita dan leang lonrong. Beberapa kilo dari perbatasan kecamatan Balocci akan terpampang gerbang selamat datang di Desa Tompobulu. Pemandangan yang begitu asri dengan jalan yang berkelok kelok berukuran lebar kira kira 2 – 3 meter.

Sapa para pendaki menjadi penghibur jalan mulai dari pengendara sampai pada jalur pendakian dengan jalan kakinya. Sungguh attitude yang ramah, dan sopan serta saling sipakainga’.

Setelah sampai di pos satu kira kira pukul 11.30 berhubung karena hari sakral (Jum’at) kami membersihkan pakaian dan mengambil beberapa perlengkapan untuk menghadap kepada sang pemilik keindahan untuk melakukan shalat jum’at. Shalat sekali seminggu yang menjadi pemersatu umat muslim dari sibuknya aktivitas sepekan.

Setelah jum’atan kami mendata nopol kendaraan dan melakukan pendaftaran ke pos penjaga yang ada di pos satu. Tim yang berjumlah delapan orang, lima diantaranya adalah pemula termasuk saya akan melakukan pendakian ke gunung dengan ketinggian 1323 mdpl (perkiraan dari blog lain), pastinya disetiap perjalanan diawali dengan bismillahi tawakkaltu alallahi lahauwla walakuata illa billah. Sembari saling menguatkan tekad dan memobori semangat.

Pendakian pun dimulai dengan jalur yang  cukup membuat jantung memompa lebih keras, rasanya tidak beda jauh dengan jatuh cinta, deg degan, tapi kali ini deg degan yang teramat sangat. Hahaha.

Salah satu  dari anggota tim yang juga pemula, membawa kerel yang berisikan tenda sempat menghampiri menyerah pada pertengahan pos satu dan dua.  Tapi kami tetap saling menguatkan. Bagi perokok berpotensi lebih tinggi akan mengalami napas yang tidak beraturan dibanding yang bukan perokok, inilah salah satu dampak negatif rokok.
Pos 5 : antara lelah dan tak tahu mau apa lagi

Pos demi pos dilalui dengan aman dan saling sapa sebagai tanda saling menghargai dan menghormati sesama pendaki. Bagi pendaki yang hulu dan hilir berganti, terlihat ada yang sudah senior ada pula yang terlihat pemula (merasa bukan satu satunya pemula), mereka yang sudah dalam perjalanan pulang terkias senyum indah layaknya pemenang undian. Dan mereka yang baru melewati tiga pos terlihat begitu sengsara dengan keringat yang membanjiri. Namun dibalik senyum indah mereka yang kembali, juga terpampang kesedihan karena telah meninggalkan sesuatu yang berharga melebihi berlian.  Dan dibalik wajah sengsara mereka yang masih dalam perjalanan menggapai puncak, tersimpan harapan untuk menggapai berlian yang mahal itu.

Beberapa menit terlewati, sudah hampir dua jam melalui rindangnya pepohonan, dengan beberapa tulisan “kawasan zona inti bantimurung bulusaraung” entah apa artinya. Sesekali hujan yang lebih menyerupai embun pun membantu meringankan keringat dengan hawa dinginnya suasana siang hari di atas gunung. Pos delapan, adalah pos mata angin, kami sempatkan mengambil beberapa gambar sebagai menu wajib background pemandangan eksotis. Sembari menghirup udara segar di pos ini, terdapat menara yang entah bagaimana orang hebat yang memasangnya disini.

POS 8 : Mata angin (taken by me. yang manjat menara)
Pukul 15. 00 kami tiba di camp yang sengaja kami pilih dekat dengan mata air untuk memudahkan akses penggunaan air. Pada bulan bulan mei airnya masih cukup deras, jadi memudahkan para pendaki yang ingin memasak dan menggunakan air tanpa harus membawa dari kaki gunung. Ini salah satu kelebihan dari pendakian di bulusaraung, adanya mata air di pos sembilan (pos akhir).

Lokasi camp
Sore itu, setelah memasang tenda dan membersihkan badan dari perjalanan yang cukup menguras tenaga, dengan menikmati kopi dan sedikit cemilan, kami melakukan sholat ashar berjamaah. Diselingi doa dan rasa syukur serta dibumbuhi candaan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.00, itu berarti kami harus ke puncak untuk menikmati senja yang menjadi tujuan utama kami. Penikmat senja, mungkin bisa dibilang begitu. Kiasan senja yang selalu manawarkan rasa rindu yang entah untuk siapa, selalu saja indah dan akan tetap indah. Apalagi dinikmati di tempat yang dulunya hanya bisa dipandang sebesar ibu jari dari halaman rumah sekarang, kami sudah benar benar menakukannya.

Jarak puncak yang kira kira didaki 15 – 20 menit dari lokasi camp dengan dakian yang cukup terjal, menjadi tantangan tersendiri bagi pemula, tapi biasa sajalah. Yang penting niat lebih besar dari rasa takut, pasti tujuan akan tercapai dengan rasa puas yang lebih besar pula. Masya allah, sungguh luar biasa keindahan yang dipancarkan di puncak ini. Ada pemancar dan bendera merah putih (lambang kekayaan tanah Indonesia), bebatuan, pohon dan awan yang saat ini  letaknya berada lebih rendah dari pijakan kaki saya. Subhanallah, pemilik keindahan ini memang sungguh luar biasa memanage buminya. Sehingga dijadikan ladang penghidupan bagi hamba dan mahluknya. Rasanya tak ingin meninggalkan moment seperti ini, tak lupa mengambil gambar (baca ; berfoto) sebagai menu wajib. Segera peralatan wajib yang sudah disediakan (kamera, tongsis, spidol dan kertas) dikeluarkan dari tas. Menulis beberapa titipan salam dari kerabat, sahabat dan teman. Serta bergantian memotret.
Inilah kami, sang penakluk puncak senja

Senja yang kian menit semakin tenggelam di ufuk barat laut sulawesi terlihat jelas dari sinarnya yang semburat, Perairan yang terlihat lebih luas menjadi mahkota keindahan tanah Bugis Makassar. Gunung gunung kecil, serta karts menjadi jubah keindahannya serta awan yang menjadi perias kecantikannya. Sungguh view yang begitu lengkap. Hal itu sebentar lagi akan berganti dengan kegelapan malam. Kami pun bergegas menuju tenda yang menjadi tempat peristirahatan semalam.

Suasana malam di camp ini begitu ramai. Ada pendaki yang baru sampai malam hari dan ada yang tengah malam. Mereka tak diam, tetapi mereka menyuarakan ekspresi kebahagian masa muda mereka. Masa muda yang menurutnya begitu indah. Mudah mudahan menjadi pemuda yang positif dan selalu ingat bahwa mereka adalah pemuda dan seorang hamba.

Berayun di hammock, menikmati suguhan bintang malam yang gemerlap dan beberapa kunang kunang, api unggun yang sengaja dinyalakan untuk membantu menghangatkan suasana dingin di bulusaraung ini. Pagi menghampiri, saatnya menikmati teman sejati dari sunset. Dialah sunrise (fajar), dengan terang yang membawa harapan. Menjadi pertanda para penduduk bumi untuk memulai aktivitas selama sehari penuh. Dan dihari libur ini kami akan menikmati fajar terbit di puncak gunung bulusaraung.

Suasana pagi yang penuh dengan semangat, tak beda jauh dengan suasana senja yang penuh dengan rindu. Akhirnya berlian yang membuat wajah sedih pendaki yang meninggalkan gunung ini kami temukan juga. Ternyata keindahan seperti ini yang membuat para penikmat gunung sedih dikala perjalanan pulang. Dari rentetan pendaki, ada satu wanita dengan seragam hijabernya yang membuat saya salut, rok dan hijab syar’i besarnya tetap bisa membuatnya menggapai puncak. Sungguh perjuangan yang hebat neng.

Titip salam
Titip salam dari puncak gunung
Setelah menikmati dua paket  senja dan fajar dengan cuaca yang begitu bersahabat, kami akan mengantongi secercah cerita untuk dibagikan. Salah satunya lewat blog ini. perjalanan pulang yang lebih cepat satu jam dari pendakian membuat kami sampai kembali ke pos satu sebelum duhur. Ternyata jalur pulang bisa lebih cepat dari pendakiannya. 

Penikmat fajar (sunrise@ Bulusaraung)



Bulusaraung 06 – 07 Mei 2016.

Air Terjun Maddenge' Camba Maros

07:10 0
Air terjun Maddenge'
Maddenge' adalah nama dusun dimana lokasi air terjun ini. Konon ada yang memberi nama untuk tempat ini dengan bantimurunge (artinya air yang berbunyi) sedangkan nama dari maddenge' sendiri dalam bahasa bugis adalah menggendong di bagian punggung. Mungkin karena lokasi dusun yang berada diatas gunung, dahulu warga sekitar sering maddenge beberapa hasil kebun mereka turun gunung makanya disebut maddenge'. Letak air terjun ini Desa pattiro deceng kecamatan cenrana kabupaten maros. Tidak begitu jauh dari lorong menuju lokasi wisata tanah tengah yang eksotis dengan pemandangan dari atas gunungnya. 

Hari itu, 07 Februari 2016 (tiga bulan yang lalu) sudah lama, tapi tidak bakal lupa dengan tempat yang menyimpan pemandangan alam seindah ini. Masih tereka jelas didalam otak yang menyimpan rekaan dari retina mata bagaiman air secara beruntun mengalir dari sela jepitan bebatuan / tebing besar. Mirip buatan manusia, tapi etss. buatan Allah yang maha besar tidak bisa dibandingkan buatan manusia yang tidak memiliki daya melainkan izinnya. Manusia hanya bisa menikmati pemandangan seindah itu. 

Letak air terjun Maddenge yang berada pada puncak tertinggi membuat pengunjung harus melewati licinnya beberapa bagian batuan di aliran air sungai ini. sesekali menanjak karena batu yang begitu besar dan memerlukan kekompakan tim untuk saling membantu. Cukup berjalan sekitar 15 - 20 menit dari arah parkir motor untuk menggapai tahtanya. Melalui sawah warga dengan sengkedan yang indah apabila musim sudah hampir panen. Di beberapa bagian terdapat air terjun kecil dengan tinggi yang beragam, sekitar tinggi orang dewasa, ada pula sekitar dua meter lebih. lokasi lokasi yang seperti ini sangat indah  untuk dijadikan latar belakang potret anda (silahkan selfie).

Setelah melalui perjalan cor alami ini akhirnya sampai pada tahta tertinggi, sungguh indah dan luar biasa ciptaannya. Sudah ada yang memasang hammock, ada yang makan, selfie dan berenang. Sudah tiga air terjun di kecamatan cenrana ini, belum ada yang menetapkan tarif (karcis) jadi silahkan menikmati secara gratis semua keindahan yang ditawarkan kepada anda. Tak lupa kami mengabadikan moment yang khas ini. Bersama. Menghabiskan waktu.




Like this ya