Soppeng, Wisata Air Panas

08:14 0
Merdeka !!!
HUT RI yang ke – 71 (temanya : Kerja Nyata). Kerja yang nyata, bukan hanya tong kosong yang nyaring bunyinya. Juga bukan nyanyian pramuka “...sedikit kerja,a,a, banyak bicara...”
Sumber Mata Air Lejja

Indonesia dengan segala peluh dan lesuh ditimbun kekayaan alam yang maha luas dan besar. Memiliki masyarakat yang hebat nan serakah, Memiliki ulama – ulama besar dan koruptor – koruptor besar.

Cukup sekian intronya.
Ini bukan lagu, tapi sebuah catatan perjalanan di hari kemerdekaan. Perjalanan yang tiba – tiba dan penuh rasa iba. Malam 16/08/16, sepulang kerja pukul 20.00, berencana mengunjungi seorang kawan lama di kostnya. Sembari dagang sosis yang didapat dari cece. Jamil salah seorang pembeli yang setia menunggu. Baru sempat membawanya malam ini, setelah dipesan sudah beberapa hari yang lalu. Sosis yang cukup murah dan meriah Rp. 15.000 untuk 45 batang kecil.

Nyanyian jangkrik, mengawali pertemuan hangat malamini, sebelumnya tak lupa mengabari Alam yang ternyata baru pulang dari Barru. Seorang kawan lama juga, yang sekarang gentayangan karena mengadu nasib di Kota Makassar.

Akhirnya dari pertemuan singkat ini tersimpulkan sebuah tujuan. Soppeng !. Kampung halaman Alam. Seolah niat yang baik, yang selalu mendapat kemudahan, kami pun bersegera bergegas mempersiapkan diri, tenaga dan harapan serta doa restu dari yang masih sempat memberi restu. Persiapan mendadak yang cukup matang karena akhirnya baru sempat berangkat pukul 22.00 setelah kembali mengajak Halim. Dalam perjalanan sepanjang Maros, Camba, Mallawa, Bone, Soppeng berjejer rapi bendera warna warni yang mngapit bendera merah putih. Malam itu adalah malam persiapan para paskibra untuk mengibarkan bendera pusaka yang setiap setahun sekali dikibarkan. Bendera yang penuh makna dengan para veteran yang berjuang mati matian dan masih sangat antusias saat upacara bendera tiba.

Perjalanan  yang begitu hangat, diiringi lagu lagu kenangan seolah sedang dalam perantauan. Dengan posisi yang nyaman, sesekali kami terlelap dalam alunan suasana alam hingga akhirnya Tiba pukul 02.00 dinihari perjalanan kurang lebih empat jam dari depan Bandara.

Rumah Alam yang terletak di Desa Bulue Kecamatan Marioriawa kabupaten Soppeng. Jalan poros, menuju Permandian Air Panas Lejja. Setelah kembali melihat kasur, kami melanjutkan tidur. Tentunya bukan karena kami lelah, karena sepanjang jalan disuguhi dengan alam indah mahakarya sang pencipta. Tapi karena kami harus mempersiapkan diri berpetualang ketika matahari sudah menampakan wajah manisnya.

Suara burung menyampaikan pesan bahwa ini adalah hari kemerdekaan. Menandakan pagi telah menghampiri. Anak muda yang mencoba meresapi apa itu kemerdekaan, kembali melajukan si roda empat yang berjarak kurang lebih 9 km dari lokasi peristirahatan. Setelah memasuki gerbang utama (pembelian karcis) Suasana yang begitu alami akan anda jumpai. Dengan jalan menanjak dan menurun anda diharap berhati hati karena daerah  hutan lindung ini berada di tepi jurang, di sisi lainnya gunung.

Lokasi utama sebuah tempat parkir yang disisinya terdapat warung yang menyewakan ban, menjual souvenir/baju, cemilan serta makanan bagi pengunjung yang tidak membawa bekal. Kolam utama yang ditemui tidak sehangat kolam diatasnya. Letaknya yang  sengaja diatur oleh  pengelolah setempat membuat kolam ini terasa dingin, seperti kolam renang biasa yang  ada di Bantimurung.

Belum saatnya bermain air, kami masih ingin mengelilingi tempat ini. Menelusuk sumber air panas langsung dari tempatnya. Mata saya tertarik pada sebuah pohon yang disekelilingnya terdapat botol berisi air,  yang menurut mitos setempat itu adalah ... blo blo blo. ... (sudah bisa menebaklah apa maksudnya),  yang pasti kita hanya bisa menggantungkan harapan dan meminta hanya kepada Allah semata.

Tercium bau belerang dari sumber air panas itu. Menurut penjaganya, telur mentah yang dimasukan kedalam air ini selama beberapa menit, maka akan matang dan langsung bisa dinikmati. Sungai yang mengalir menuju sebuah kolam besar berbentuk oval tak sempurna. Baru kali ini mandi di kolam dengan ekspresi aneh seperti mencoba sebuah teh hangat. Mencoba, mencelup, pelan dan meresapi ... Ternyata airnya betul betul hangat. Entah berapa derajat celcius. Yang pastinya ikan gabus yang begitu agresif tidak akan seagresif aslinya ketika memasuki kolam ini.

Pada kolam air panas Lejja ini, dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai obat beberapa penyakit kulit. Serta sangat mujarab untuk membersihkan “daki”. Sebelum kolam ini. terdapat kolam kecil yang airnya dingin untuk membasuh kulit dari hangatnya air alam ini.
Terdapat pula beberapa gazebo yang di tengahnya terdapat kolam untuk merendam kaki . sebagai terapi air panas istilahnya. Terdapat pula beberapa villa bagi pengunjung yang menginap. Juga terdapat sebuah aula besar yang digunakan sebagai tempat pertemuan. Sayang sekali pada saat ketempat ini, ada sebuah kolam besar yang kering, tak terisi air. Hanya nampak keramik yang berkarat dari dasar kolam kering ini.

Kolam Air Panas
Setelah puas menikmati salah satu objek wisata air di Sulawesi Selatan ini akhirnya kami kembali dengan membawa sejumlah kenangan indah yang masuk dalam memori. Sebelum pulang kami menyempatkan diri menikmati kelapa muda yang langsung dari pohonnya. Mencampur dengan gula merah dan jeruk nipis membuatnya sedikit lebih berasa. Di sini di desa Bulue, kami merasa sudah seperti desa sendiri dengan keramahan yang disuguhkan.

Catatan perjalanan yang latepost. 02092016





Jangan Asal Dalam Berkata Insya Allah

07:47 0

Makna kata insya allah “Jika Allah menghendaki” dewasa ini sudah sangat lumrah diucapkan diberbagai kalangan. Baik anak anak, remaja, pemuda / pemudi  yang sudah mulai berjanji kepada temannya senantiasa menggunakan kata ini di kesehariannya.

Sebenarnya sangat baik bila dilihat dari segi penggunaannya yang mengarah kepada kehidupan islami.  Akan tetapi banyak yang menganggap sepele kata insya allah ini. Misalnya saja saat berjanji yang potensi untuk tidak menepatinya lebih besar dibanding potensi untuk menepatinya. Maka untuk mengamankan diri dan menyenangkan lawan bicara maka dia akan menggunakan kata insya allah. Bukan hanya kepada sesama muslim, bahkan ketika berjanji kepada teman, rekan kerja, ataupun atasan yang non muslim kata insya allah ini sudah sangat menjamur. Terlebih lagi kata insya allah ini kadang digunakan oleh non muslim.

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ tanpa (dengan menyebut), ‘Insya Allah.’” [QS. Al-Kahfi: 23-24]

Sebuah kisah yang terdapat dalam surah Al – Kahfi (penghuni gua). Menurut riwayat ada beberapa orang quraisy bertanya kepada nabi Muhammad SAW tentang roh, ashabul  kahfi dan zulqarnain. Lalu beliau menjawab datanglah kepadaku besok pagi agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan insya allah (Jika Allah menghendaki). Tetapi ternyata besoknya wahyu tentang hal itu tidak datang, sehingga nabi Muhammad SAW tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Maka turunlah ayat 23-24 Surah Al kahfi ini sebagai pelajaran kepada nabi Muhammad SAW. Bilamana nabi Muhammad SAW lupa mengucapkan insya allah.

Jika Allah menegur nabi dengan menurunkan ayat ini, maka kita yang hanya bergelar sebagai hamba dan pengikut nabi Muhammad SAW harus lebih terasa dengan teguran yang menjadi ayat suci tersebut.

Alhamdulillah kata insya allah ini sudah menjamur. Tapi banyak yang asal berlontar dan tidak paham maknanya, seolah mereka non muslim yang hanya ikut - ikutan berlontar. Insya Allah membuat sebuah perjanjian menjadi lebih berarti karena pada saat mengucapkan kita melibatkan Allah, Kita hanya bergantung kepada Allah Swt untuk menentukan sesuatu itu bisa atau tidak dilakukan. Bahkan bila Allah menghendaki, masih saja ada, yang dengan sengaja mengingkari kehendak Allah tersebut.

Kata Insya Allah, bila disepelekan bisa saja membuat lawan bicara tidak percaya lagi ketika kita menggunakannya untuk kedua kali. Semisal, ketika awalnya berjanji menggunakan kata “Insya Allah”, dan ketika berhalangan hadir (tidak oleh kecelakaan dan bencana, tetapi dengan sengaja), maka ketika berjanji lagi untuk selanjutnya akan mengurangi kepercayaan orang yang pernah kita kecewakan dengan janji yang dibuat. Jika seperti itu, bisa memunculkan pertanyaan lagi bagi orang yang menerima janji, “apakah tadi’ Insya Allah iya, atau insya allah enggak?”.

 Janji bila sudah dibuat maka kita harus bertanggung jawab untuk memenuhinya. Karena janji merupakan hutang, bisa saja hal tersebut menjadi penghalang manusia memasuki surga. Maka dari itu jangan asal berlontar Insya Allah.

Muhammad Syukur. Bantimurung, 27 Juli 2016

Malino, Kota Bunga dan Air Terjun

13:51 2
Masih dalam suasana lebaran, dihari kedua tanggal 07 Juli 2016 Masehi (02 Syawal 1437 Hijriah). Merealisasikan rencana yang kemarin sempat kami susun. Berdasarkan dari pengalaman dan rekomendasi beberapa teman, akhirnya Malino menjadi salah satu tujuan yang menarik untuk dijadikan wahana liburan yang cukup panjang ini.  Berangkat pukul 08.00 dari kampung, bersama enam anggota yang pastinya sudah mempersiapkan bekal; makanan, bensin, mental serta doa orang tua kami melajukan sepeda motor dengan santai. Sengaja kami berangkat sepagi ini agar tidak terlalu tersengat panasnya matahari yang cukup cerah pagi ini. 

Singgah di Carangki untuk mengajak wahyu  dan Akbar, sembari meminjam alat untuk mengabadikan moment, perjalanan dilanjutkan pukul 09.30 dari Carangki, melalui Sipur lanjut ke Gowa. Ya, cukup lengan lalu lintas kendaraan di jalur ini, itulah alasan mengapa kami memilih melalui jalan ini. selain menghemat waktu, bensin dan jarak tempuh jika harus lewat Makassar, kondisi jalan pun cukup mulus dengan beton dan sesekali aspal. Walaupun sempat berpikiran salah jalur, tapi itu semua dapat teratasi dengan bertanya ke warga sekitar. Bagaimana tidak, setahun yang lalu, jalan belum semulus ini, masih dengan  kondisi yang belum terlalu memadai. Tapi alhamdulillah langkah pemerintah setempat terlihat di bagian ini. 

Setelah menempuh waktu sekitar kurang lebih 2 jam dari Maros, akhirnya aroma kota bunga mulai terasa, dingin yang menusuk sampai ketulang menandakan bahwa cuaca sudah tidak bersahabat lagi dengan kondisi yang dibawah dari  kampung sendiri. Padahal, terik matahari sangat cerah. Menelusuri tepian sungai yang entah berawal dari mana, kami terus menlajukan motor mengikuti penanda jalan (Km ke malino). 

Hutan Pinus
Kami memutuskan untuk langsung ke kebun pinus, untuk menikmati rindangnya pohon pinus yang tidak ada di kampung kami. suasana gunung sangat terasa. Pantas tempat ini dikunjungi banyak turis dan orang orang chinese yang memang suka dingin. Tepat di lokasi ini, ada banyak kegiatan ekonomi yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Mulai dari berdagang, baik makanan ringan ataupun cemilan dan bahkan rumah makan, pemanfaatan area parkir, menunggangi kuda, yang kudanya milik dari warga lokal, dan area outbond bersama keluarganya. Juga terdapat beberapa arena permainan standar.   Menghabiskan beberapa jam ditempat ini, sambil berbagi cerita dan hal lucu merupakan seingan untuk sebuah perjalanan. Yang pasti setiap tempat  tidak akan seru jika tidak diabadikan. 

 Air Terjun Takapala.
Takapala
Tak jauh  dari lokasi pengisian bensin, (baca;pertamina) yang sepertinya satu satunya di Malino. Arahkan motor anda ke kanan. Setelah terdapat sebuah papan nama besar berwarna biru dan sablon putih bertuliskan (TAKAPALA kurang lebih 4 km) kami pun memasuki tempat itu setelah melaksanakan sholat duhur. Alhasil ada bebrapa air terjun yang harus  terlewati, seperti air terjun ketemu jodoh, dll. Pasti ada yang menanyakan biaya / karcis masuk ke air terjun takapala ini?, Harganya sangat bersahabat, hanya Rp. 3000 per orang.  Tak sebanding dengan pemandangan menarik yang diberikan oleh sang maha kuasa.
Saatnya menyentuh bekal, perut yang sudah mulai keroncongan membuat kami tak segan mengeluarkan burasa' dari tasnya Akbar. Setelah makan dengan suguhan anak kostan. Model perumahan yang dilewati untuk menuju ar terjun ini mirip di Brasil, rumah yang bertingkat tingkat karena dibangun diatas tanah yang tidak rata. tapi itulah yang menjadi ciri khas dari tempat ini. Air jatuh yang cukup tinggi, membuat bebatuan yang menopangnya terlihat artistik. Tentunya tak lupa mengeluarkan segala peralatan penunjang untuk mengambil gambar. Ada beberapa lokasi mengambil gambar di tempat ini. salah satunya di bagian atas, yang membuat kami sejajar dengan bagian tengah air terjun. Di bagian lain yang diberi pembatas besi agar pengunjung bisa merasa aman pada saat berfoto. dan bagian akhir di kawah air terjun. Banyak pengunjung yang memanfaatkan untuk mandi sembari menikmati dinginnya air alami dari pegunungan ini. Airnya cukup jernih, mengalir di sepanjang sungai yang dipenuhi dengan bebatuan. Kami berada di beberapa meter dari lokasi jatuhnya air, tapi hembusan air pun terasa sampai ketempat kami. Entah berapa volume jatuhnya air ini. 
Semakin sore, pengunjung yang datang semakin banyak. Meskipun cuaca yang sudah menampakan wajah mendung, mereka tetap berusaha menghabiskan waktu libur di air terjun Takapala Malino ini.
 
Tak Lupa kirim salam dari Malino


Ingat nih

Hutan Pinus


Taman di hutan pinus

Gema Sholatmu !!!

06:17 0

Menapa kamu sholat sampai 23 rakaat? Sedangkan teman – teman kamu dari tadi sudah pulang ke rumahnya, dan sudah tidur dengan pulas. Pertanyaan itu bukan hal yang  menarik lagi ditelinga Arul. Sudah sering dia mendengar pertanyaan seperti itu dari orang yang ada disampingnya saat melakukan sholat berjamaah. Orang orang itu sudah pasti lebih tua darinya, ada bapak bapak, remaja maupun pemuda. Hal tersebut membuat mereka iri kepada anak kecil berusia enam tahun ini.
Semangatnya tak kunjung surut meski dia tertatih  dalam sholatnya. Diantara beberapa shaf yang tersisah, dialah yang paling muda dan paling kecil. Pernah sekali saya berada disampingnya. Lirik sedikit, dia sudah hampir terjatuh karena mengantuk. Tapi ia terus memaksakan diri sampai tarawihnya sempurna.
            Dengan wajah ngantuk, dia mencampurkan sedikit senyum dan menjawab “Dirumah tidak ada orang, jadi saya tunggu bapak dan ibu selesai sholat”. Berbeda dengan anak yang lain, ia lebih mementingkan menunggu orang tuanya daripada ia merengek ingin pulang.
            Mungkin saat ini ia belum menyadari, bahwa dia adalah korban dari pemaksaan orang tuanya. Pemaksaan untuk menjadi seorang hamba yang setia, pemaksaan untuk menjadi pribadi yang berhati hebat, pemaksaan untuk menjadi calon pemuda yang bertakwa. Dan orang tuanya berharap ia berpotensi memiliki iman yang tebal untuk menghimpun beberapa iman yang masih tipis.
            Kokohnya perjuangan orang tua Arul selalu membuahkan hasil, diusianya yang masih muda belia ia mampu menjadi teladan bagi teman – temamnya yang lain. Perawakannya yang sopan mampu menjadikan posisinya ditengah pergaulan dapat dihargai dan dijadikan panutan.
            Tak hanya di lingkungan tempat tinggalnya, dia juga menjadi panutan di sekolah tempatnya belajar. Pujian senantiasa menjadikan dia percaya diri. Hebat sekali anak ini, bisa membuat iri orang tua teman temannya dan para guru.
            Satu hal yang dapat saya pelajari  dari orang tua Arul adalah, mereka sedang dalam proses membuat aturan baru dalam hidup anaknya. Aturan yang akan menjadi landasan pacu bagi kehidupan Arul. Mereka mengajarkan shalat lima waktu sebagai sandaran waktu yang tepat agar hidup anaknya tidak disia - siakan. Hidup memang sekali, tapi akan jatuh berkali kali jika tak mampu mengatur dengan aturan islamiyah. Menanamkan shalat lima waktu pun sangat perlu baginya, karena terkandung banyak kebaikan didalamnya. Selain itu menyandarkan pengaturan waktu pada shalat adalah sebuah penemuan yang luar biasa dan sangat menguntungkan. Hal ini yang akan dijadikan habit bagi Arul, ia akan mampu mengatur jadwal harian dalam hidupnya jika waktu sholat dijadikan sebagai titik tumpu segala aktivitasnya.
            Shalat adalah ibadah ukhrawi, yaitu ibadah yang membuktikan pengabdian diri kita kepada Allah swt dan rasul-Nya, itulah mengapa mereka menganggap sholat bisa menjadi tumpuan hidup semua manusia.
            Jangan biarkan nabi kita yang telah memperjuangkan ringkasnya waktu shalat menjadi kecewa karena melihat umatnya tidak sholat. Kita  adalah  pengayom bagi saudara kita yang  lain walaupun kita tak bisa menjamin syurga bagi mereka setidaknya kita membantu mereka menghindari api neraka, itulah kewajiban sesama muslim. Saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Maka dari itu peliharaah sholat karena sesungguhnya kamu tidak akan merugi di dunia dan diakhirat.

***

Menelusuk awan di ketinggian Bulusaraung Pangkep

08:11 0



Di atas awan puncak bulusaraung
Hari ini center point untuk melakukaan perjalanan perdana adalah di rumah yudha. Sembari menunggu beberapa teman yang belum sampai. Persiapan sudah dilakukan karena seminggu sebelumnya sudah saling info barang apa yang harus disediakan. Tenda, perlengkapan makan dan masak, juga perlengkapan di malam hari (senter, lilin, kopi, dan beberapa helai kain pelapis dingin). Yang paling penting adalah cemilan.

Pukul 10.30 kami berangkat (dari Maros), setelah pamitan dan mohon doa restu kepada ibu ahmad yang juga menitipkan pesan agar namanya ditulis dikertas “Dapat salam dari puncak”. Yah, keinginan seorang ibu yang begitu mulia.

Satu jam perjalanan telah dilalui dari arah Maros menuju kaki gunung Bulusaraung. Letaknya, Setelah menemui patung KB (Keluarga Berencana) yang digencarkan di Kabupaten Pangkep yang disisi kanannya terdapat Masjid megah berwarna hijau, tinggal melajukan motor ke arah kanan, dari jalan poros (Tonasa 1) satu jalur ke wisata sejarah sumpang bita dan leang lonrong. Beberapa kilo dari perbatasan kecamatan Balocci akan terpampang gerbang selamat datang di Desa Tompobulu. Pemandangan yang begitu asri dengan jalan yang berkelok kelok berukuran lebar kira kira 2 – 3 meter.

Sapa para pendaki menjadi penghibur jalan mulai dari pengendara sampai pada jalur pendakian dengan jalan kakinya. Sungguh attitude yang ramah, dan sopan serta saling sipakainga’.

Setelah sampai di pos satu kira kira pukul 11.30 berhubung karena hari sakral (Jum’at) kami membersihkan pakaian dan mengambil beberapa perlengkapan untuk menghadap kepada sang pemilik keindahan untuk melakukan shalat jum’at. Shalat sekali seminggu yang menjadi pemersatu umat muslim dari sibuknya aktivitas sepekan.

Setelah jum’atan kami mendata nopol kendaraan dan melakukan pendaftaran ke pos penjaga yang ada di pos satu. Tim yang berjumlah delapan orang, lima diantaranya adalah pemula termasuk saya akan melakukan pendakian ke gunung dengan ketinggian 1323 mdpl (perkiraan dari blog lain), pastinya disetiap perjalanan diawali dengan bismillahi tawakkaltu alallahi lahauwla walakuata illa billah. Sembari saling menguatkan tekad dan memobori semangat.

Pendakian pun dimulai dengan jalur yang  cukup membuat jantung memompa lebih keras, rasanya tidak beda jauh dengan jatuh cinta, deg degan, tapi kali ini deg degan yang teramat sangat. Hahaha.

Salah satu  dari anggota tim yang juga pemula, membawa kerel yang berisikan tenda sempat menghampiri menyerah pada pertengahan pos satu dan dua.  Tapi kami tetap saling menguatkan. Bagi perokok berpotensi lebih tinggi akan mengalami napas yang tidak beraturan dibanding yang bukan perokok, inilah salah satu dampak negatif rokok.
Pos 5 : antara lelah dan tak tahu mau apa lagi

Pos demi pos dilalui dengan aman dan saling sapa sebagai tanda saling menghargai dan menghormati sesama pendaki. Bagi pendaki yang hulu dan hilir berganti, terlihat ada yang sudah senior ada pula yang terlihat pemula (merasa bukan satu satunya pemula), mereka yang sudah dalam perjalanan pulang terkias senyum indah layaknya pemenang undian. Dan mereka yang baru melewati tiga pos terlihat begitu sengsara dengan keringat yang membanjiri. Namun dibalik senyum indah mereka yang kembali, juga terpampang kesedihan karena telah meninggalkan sesuatu yang berharga melebihi berlian.  Dan dibalik wajah sengsara mereka yang masih dalam perjalanan menggapai puncak, tersimpan harapan untuk menggapai berlian yang mahal itu.

Beberapa menit terlewati, sudah hampir dua jam melalui rindangnya pepohonan, dengan beberapa tulisan “kawasan zona inti bantimurung bulusaraung” entah apa artinya. Sesekali hujan yang lebih menyerupai embun pun membantu meringankan keringat dengan hawa dinginnya suasana siang hari di atas gunung. Pos delapan, adalah pos mata angin, kami sempatkan mengambil beberapa gambar sebagai menu wajib background pemandangan eksotis. Sembari menghirup udara segar di pos ini, terdapat menara yang entah bagaimana orang hebat yang memasangnya disini.

POS 8 : Mata angin (taken by me. yang manjat menara)
Pukul 15. 00 kami tiba di camp yang sengaja kami pilih dekat dengan mata air untuk memudahkan akses penggunaan air. Pada bulan bulan mei airnya masih cukup deras, jadi memudahkan para pendaki yang ingin memasak dan menggunakan air tanpa harus membawa dari kaki gunung. Ini salah satu kelebihan dari pendakian di bulusaraung, adanya mata air di pos sembilan (pos akhir).

Lokasi camp
Sore itu, setelah memasang tenda dan membersihkan badan dari perjalanan yang cukup menguras tenaga, dengan menikmati kopi dan sedikit cemilan, kami melakukan sholat ashar berjamaah. Diselingi doa dan rasa syukur serta dibumbuhi candaan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.00, itu berarti kami harus ke puncak untuk menikmati senja yang menjadi tujuan utama kami. Penikmat senja, mungkin bisa dibilang begitu. Kiasan senja yang selalu manawarkan rasa rindu yang entah untuk siapa, selalu saja indah dan akan tetap indah. Apalagi dinikmati di tempat yang dulunya hanya bisa dipandang sebesar ibu jari dari halaman rumah sekarang, kami sudah benar benar menakukannya.

Jarak puncak yang kira kira didaki 15 – 20 menit dari lokasi camp dengan dakian yang cukup terjal, menjadi tantangan tersendiri bagi pemula, tapi biasa sajalah. Yang penting niat lebih besar dari rasa takut, pasti tujuan akan tercapai dengan rasa puas yang lebih besar pula. Masya allah, sungguh luar biasa keindahan yang dipancarkan di puncak ini. Ada pemancar dan bendera merah putih (lambang kekayaan tanah Indonesia), bebatuan, pohon dan awan yang saat ini  letaknya berada lebih rendah dari pijakan kaki saya. Subhanallah, pemilik keindahan ini memang sungguh luar biasa memanage buminya. Sehingga dijadikan ladang penghidupan bagi hamba dan mahluknya. Rasanya tak ingin meninggalkan moment seperti ini, tak lupa mengambil gambar (baca ; berfoto) sebagai menu wajib. Segera peralatan wajib yang sudah disediakan (kamera, tongsis, spidol dan kertas) dikeluarkan dari tas. Menulis beberapa titipan salam dari kerabat, sahabat dan teman. Serta bergantian memotret.
Inilah kami, sang penakluk puncak senja

Senja yang kian menit semakin tenggelam di ufuk barat laut sulawesi terlihat jelas dari sinarnya yang semburat, Perairan yang terlihat lebih luas menjadi mahkota keindahan tanah Bugis Makassar. Gunung gunung kecil, serta karts menjadi jubah keindahannya serta awan yang menjadi perias kecantikannya. Sungguh view yang begitu lengkap. Hal itu sebentar lagi akan berganti dengan kegelapan malam. Kami pun bergegas menuju tenda yang menjadi tempat peristirahatan semalam.

Suasana malam di camp ini begitu ramai. Ada pendaki yang baru sampai malam hari dan ada yang tengah malam. Mereka tak diam, tetapi mereka menyuarakan ekspresi kebahagian masa muda mereka. Masa muda yang menurutnya begitu indah. Mudah mudahan menjadi pemuda yang positif dan selalu ingat bahwa mereka adalah pemuda dan seorang hamba.

Berayun di hammock, menikmati suguhan bintang malam yang gemerlap dan beberapa kunang kunang, api unggun yang sengaja dinyalakan untuk membantu menghangatkan suasana dingin di bulusaraung ini. Pagi menghampiri, saatnya menikmati teman sejati dari sunset. Dialah sunrise (fajar), dengan terang yang membawa harapan. Menjadi pertanda para penduduk bumi untuk memulai aktivitas selama sehari penuh. Dan dihari libur ini kami akan menikmati fajar terbit di puncak gunung bulusaraung.

Suasana pagi yang penuh dengan semangat, tak beda jauh dengan suasana senja yang penuh dengan rindu. Akhirnya berlian yang membuat wajah sedih pendaki yang meninggalkan gunung ini kami temukan juga. Ternyata keindahan seperti ini yang membuat para penikmat gunung sedih dikala perjalanan pulang. Dari rentetan pendaki, ada satu wanita dengan seragam hijabernya yang membuat saya salut, rok dan hijab syar’i besarnya tetap bisa membuatnya menggapai puncak. Sungguh perjuangan yang hebat neng.

Titip salam
Titip salam dari puncak gunung
Setelah menikmati dua paket  senja dan fajar dengan cuaca yang begitu bersahabat, kami akan mengantongi secercah cerita untuk dibagikan. Salah satunya lewat blog ini. perjalanan pulang yang lebih cepat satu jam dari pendakian membuat kami sampai kembali ke pos satu sebelum duhur. Ternyata jalur pulang bisa lebih cepat dari pendakiannya. 

Penikmat fajar (sunrise@ Bulusaraung)



Bulusaraung 06 – 07 Mei 2016.

Like this ya