Air Terjun Wae Sai' Barru dan Kisahnya

06:05 0
Ke Air Terjun Wae Sai’ Kabupaten Barru.

05 Februari 2017, Pukul 08.00 berangkat dari rumah Nawir menuju meet point, Pangkep Jappa – Jappa yang ada di seberang sungai tugu khas Pangkep yang dijuluki “Bambu Runcing”. Sebuah tugu dengan gambar bambu yang diruncingkan menggambarkan kepahlawanan di Pangkep.

Sejak pukul 08.15 saat sampai disini, hingga pukul 10.00 Wita, orang orang yang join dalam trip yang diadakan komunitas Pangkep Jappa Jappa baru terkumpul. Tujuan tripnya adalah air terjun Tondong Tallasa yang ada di perbatasan Pangkep Bone. Air terjun tersebut masuk dalam kawasan Kabupaten Bone. Dari gambar yang ditampilkan dan video pendek dari crew PJJ yang pernah cek lokasi sebelumnya, disana terlihat keren dan sangat menarik. Maka dari itu, Nawir merasa tertarik untuk join dalam trip yang diadakan komunitas traveling di daerahnya. Nawir mengajak empat orang temannya, termasuk saya. Dan kami menunggu bersama selama kurang lebih dua jam. -_-

Sejak perjalanan yang dimulai pada pukul 10.00, untuk tiba dilokasi diperkirakan satu jam seperdua sampai dua jam perjalanan. Alhasil, pada saat itu, kami singgah di warung pinggir jalan untuk membeli minum. Sekedar untuk melepas dahaga. Rombongan yang berangkat lebih awal dengan sigap melajukan motornya kearah timur Kabupaten Pangkep. Ditinggal beberapa menit dari rombongan pertama, kami berusaha mengejar ketertinggalan. Dengan bekal dahaga yang telah dibasuh air berwarna, Nawir tak kalah sigapnya melajukan motornya. Putaran demi putaran, lingkaran demi lingkaran, dan pacu yang dibuat dari tali gas membuat matic biru kesayangnnya melaju dengan pesat. Hingga akhirnya ........

Kami tetap tertinggal. Entah karena mereka yang melajukan motor dengan kencang atau karena kami yang terlalu lama. Tapi tenang, hal itu tak menjadi masalah buat Nawir, dia masih sibuk dengan tali gasnya, mengitari belokan demi belokan, dan akhirnya belok kiri ke arah Barru hanya menggunakan feeling (hebat sekali). Rombongan pertama tadi menuju ke arah yang sama sekali tidak kami ketahui. Sayang sekali tak ada sinyal waktu itu, jadi kami tak bisa menghubungi salah seorang diantara mereka.

Sebenarnya masih ada satu rombongan lagi yang menyusul, tapi jika harus menunggu mereka yang dibelakang, yang dikejar didepan kita akan semakin jauh meninggalkan. (owalah baper).

Satu jam melakukan perjalanan mendaki dan dengan tikungan tajam yang tidak setajam tikungan Palopo – Toraja. Kami merasa sudah tertinggal jauh disana, tanpa kabar, tanpa kabar angin yang setidaknya bisa menenangkan. Kami merasa sudah putus asa dan tiada harapan lagi x_x , hanya senyum indah dari pelangi yang kami nantikan siang itu. Tapi sayang hari itu tak ada hujan yang membasahi bumi, jadi mustahil untuk menunggu kabarnya pelangi. Beberapa saat setelah ungkapan kecewa itu muncul, signal akhirnya masuk mengisi kotak yang sedari tadi kosong pada kolom signal di handphone . Wah, telephone dari salah seorang teman yang ikut di rombongan pertama tadi. Isinya kurang lebih seperti ini “woi, dimana meki? Sampai maka saya di air terjun!, banyakna air weh -_-”  ungkapan itu seolah menghantam kami, tiba tiba saja mendung menghiasi langit langit naluri dan keinginan kami dan dengan tiba tiba lagi kami hanya bisa mengendorkan niat yang terlalu membumbung tadi. Bukannya patah semangat, tapi karena kenyataan bahwa kami sudah kesasar jauh, dan tak mungkin kembali lagi.

“Dimana meki ini, saya jemputki diluar, kususul nah”.

Jawaban Nawir : “ Sudahlah teman mundurma, tidak bisa ma lanjutkan lagi, terlalu baikka untuk menuju kehatinya ianu”.

 “Woi Nawir, sadarko, kesasarki inie”(diiringi lagu galau “siapalah aku ini, untuk meminta buih yang me .... xxxxxx).

Yah, akhirnya sudah benar benar kesasar jauh, dan sekarang kita sudah di kabupaten Barru. Tidak apalah, perjalanan kembali dihidupkan, tanpa berbalik ke arah yang begitu terjal tadi, sebenarnya hal yang membuat Nawir malas putar balik, karena kondisi jalan yang berbatu tajam dan menukik keras itu.

Ba’dda Duhur kami sudah berada di Kabupaten Barru, Kecamatan Tanete Riaja. Wah sepertinya ada satu air terjun yang bisa jadi guling disaat merindu seperti saat ini. dari kunjungan sebelumnya ke Celebes Canyon dan pohon jomblo di  Kabupaten Barru, Ada papan petunjuk yang menginformasikan arah ke air terjun wae sai ±7 km.  Yah, kamimemilih alternatif itu. Bismillah, di depan harus lebih baik.

Sekitar kurang lebih tujuh atau entah berapa kilometer, jalan yang kami lalui dari poros Barru Soppeng dimulai dengan perjalanan menanjak lagi. Melewati beberapa kampung dengan suguhan panorama indah ciptaan yang maha kuasa. Dari kejauhan terlihat dua air terjun yang sangat megah membawa air keluar dari celah pegunungan.

Akhirnya, kami harus memarkir kendaraan karena jalanan sudah tidak memadai lagi untuk mengendarai motor. Kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih 200 meter. Melewati sengkedan, rumput gajah, dan pengairan langsung dari air terjun wae sai. Jembatan gantung yang membelah diantara sungai itu, menjadi alternatif untuk mencari jalan baru sembari menikmati kemegahan air terjun wae sai dari kejauhan. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya gemuruh air terjun sudah bergitu dekat terasa. Masya allah, indah bukan ?

Air Terjun Wae Sai Barru
Kami mengambil tempat strategis ditengah sungai di batu yang besar. Ornamen ornamen batu yang begitu besar ini berjejer tak beraturan dengan bentuk bulat yang tidak sepenuhnya bulat, ada lonjong, gepeng dsb, yang pasti ini hanyalah batu jadi bayangkan saja batu.

Air terjun yang sesekali menghembuskan air dari angin yang berasal dari celah pepohonan di pegunungan membuat suasana yang sedari tadi gerah menjadi adem semadem. Dibekali coklat dan air mineral (merk disensor)  cukup melegakan hal yang mengecewakan tadi.

Membayangkan proses perjalanan hari ini. begitu indah balasan yang diberikan dari proses perjuangan. Perjuangan yang pastinya akan membuahkan hasil, karena kami kembalikan  dan sandarkan kembali jiwa dan raga kami kepada sang maha pemilik keindahan. Air Terjun ini cukup menjadi  saksi perjuangan kami hari ini.

Quotes :  Restu dari orang orang kesayangan adalah yang utama bila melakukan perjalanan. Jika tidak, bisa saja terjadi hal hal yang tidak diinginkan. 

Tiga hari di Kota Palopo

21:56 0

Kira kira seperti ini ceritanya.



Pukul 20.00 kita sudah diantar sama Muhlis menunggu mobil di stasiun Maros (baca : pinggir jalan, depan SMK Kebangsaan). Alhasil, bus langsung tiba beberapa menit kemudian, barangkali tak cukup sepuluh menit. Setelah terjadi proses tawar menawar yang dramatis yang intinya menjual status (mahasiswa) biar harganya murah. Akhirnya dibolehkan naik *Mungkin dengan sedikit terpaksa*. Perjalanan pun berlangsung murah  meriah, dengan bekal seadanya (untuk kebutuhan perjalanan sendiri, masih sendiri, masih bujang).  Hujan yang mengguyur selama perjalanan membuat tidur semakin lelap. Begitupun dengan penumpang lain. Karena kondisi bus yang lebih banyak kursi kosong, membuat saya lebih leluasa berpindah tempat, dan membaringkan badan (asal tidak berjoget ria). Dan pemberhentian pertama untuk istirahat adalah di kabupaten Barru (supirnya lapar), selama kurang lebih tiga puluh menit.



Melintasi beberapa kabupaten menyusur bagian utara Sulawesi Selatan, tak terasa waktu sudah menunjukan Pukul 03.30. Akhirnya sampai ke Songka’ kecamatan Wara Selatan kota Palopo. Sebenarnya dari beberapa kali kunjungan ke Palopo, baru kali ini mendengar lokasi itu. Tapi, setelah dapat kabar dari kanda Ardi, bahwa tidak usah langsung ke terminal, turun didepan polsek wara selatan saja. Jadilah kita tiba di songka. Rumah baru kace.



Beberapa jam setelah adzan subuh berkumandang. Matahari sudah menampakan wajah lugunya, saatnya buka mata dan rasakan kilaunya. “Don’t you excited when your open your eyes, you in new place”. Benar,  sekarang kita berada lagi ditempat yang berbeda dari biasanya dan sedikit excited, walau belum telusur.



Kebetulan rumah baru kace beberapa kilometer saja dari laut, dan sebelum itu, terpampang empang yang cukup luas (untuk di telusuri). Jadilah kita pagi itu telusuri desa sekitar bersama Nabil. Pemandangan pertama yang terlihat, adalah gerombolan ikan bolu (bandeng) yang menantikan makanan, selanjutnya gerombolan udang dari empang yang lainnya. Dan kepiting yang sesekali menampakan wajah malu malunya sama kita pendatang baru dari area persawahan. Berjalan lebih jauh lagi, eh ketemu pohon jomblo *pohon jomblo lagi* bedanya sama pohon jomblo postingan sebelumnya di Barru yang berada di  bukit ditengah padang rumput yang luas. Kali ini pohon jomblonya berada di tengah empang yang berair hijau.



Budidaya Kepiting Cangkang lunak



                Telusur lebih jauh lagi, terdapat sebuah empang luas yang isinya bukan ikan dan udang, tetapi kepiting yang dimasukan dalam kotak hitam yang sudah dimodel sedemikian rupa. Jika diperhatikan lebih dalam sedalam empang, ada view menarik disini. Cukup interview pekerjanya (ibu – ibu), ternyata kepiting dimasukan dalam kotak agar bisa diambil cangkang yang lunak. Selama sehari bisa tujuh kali panen. Dan pekerjanya dibagi dalam tiga shift, karena cangkang yang sudah siap panen harus selalu dicek setiap saat.  Dan menurut info, cangkang dari kepiting ini diimpor ke luar negeri loh, bukan hanya di pasarkan di Indonesia.

                Walaupun pada pagi itu hanya terdapat sekitar sepuluh lebih pekerja yang memanen cangkang kepiting soka. Tapi mereka bekerja dengan giat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

                Tak jauh dari budidaya kepiting soka ini, sekitar seratus meter, akhirnya tiba di pantai yang tadi hanya bisa diperhatikan dari kejauhan. Airnnya surut, jadi penampakan hutan kayu lapuk dari pohon bakau begitu terasa. Dan angin laut yang sepoi datang menyambut kami dengan riangnya.



***

Hari Kedua, setelah hari kerja yang dijadikan hari cuti. Serbuan teror dari supplier dan rekan kerja kemarin, tergantikan dengan tidur lelap dari kegiatan yang meletihkan semalam. Mengecat rumah sembari mengiringi canda ketiga saudara kandung yang terlalu kegirangan ini. Sambil menunggu pisang goreng buatan mamak yang kabarnya paling enak sedunia (bagi anak anaknya). Saat fajar menyingsing, pagi ini tidak ada jelajah empang lagi (mungkin trauma karena kemarin sempat ditegur saat sedang berjalan di industri kepiting milik warga sekitar yang melarang memotret kegiatan pekerja, tapi alhasil sudah banyak gambar yang diambil. hehe).  Jadilah hari ini, kace masuk ke rumah barunya (peresmiannya). Suara ribut kerabat serta rekan kerjanya yang turut meramaikan acara syukuran cukup membuat kebisingan di pagi hingga siang itu. Rencana mau pergi sejenak, tapi motor terpakai. Jadilah kita jadi pagar ayu siang itu.



Tidak berapa lama, mungkin malaikat mendengar ucapan saya tadi untuk keluar sebentar. Ada seorang nenek yang ingin diantar pulang ke Balandai’ (nama daerah di Palopo).  Saya menawarkan diri untuk mengantar *wujud bakti kepada orang  yang lebih tua* .  Akhirnya punya kesempatan juga ngetrip bareng nenek - nenek. Selama perjalanan, nenek yang baru saya temui ini bercerita panjang tentang kisahnya yang baru seusia SMP sudah menikah, pekerjaan anak anaknya, kegiatan cucu – cucunya. Waktu gadis ngapain saja, pokoknya panjang lebar, sehingga perjalanan menjadi begitu hidup. Pesan hidup yang ditawaran untuk saya adalah “Orang tua bekerja keras diwaktu muda. Di hari tua,  mereka hanya menunggu kebaikan dari anak anaknya”. Dari perjalanan yang begitu hidup ini, saya sempat menanyakan sesuatu ; “nenek masih ingat jalan pulang ?”  Spontan jawaban dari pertanyaan singkat yang saya ajukan ini dijawabnya dengan kisah lagi. -_-. Kurang lebih seperti ini “Saya tuh waktu masih gadis tinggal di sana (sambil nunjuk suatu tempat di kota), dan setelah nikah, saya ikut suami ke Lamasi (nama daerah di luwu) jadi bla bla bla. Jadilah sebuah cerpen. Sebenarnya tujuan saya bertanya, karena saya juga lupa jalan menuju Balandai’.

waduh, kita kesasar nek. Tapi tenang saja, saya bisa baca petunjuk jalan (berusaha menenangkan). Dari beberapa liku jalan yang dilalui, akhirnya jalan poros menuju Masamba kelihatan. Syukurlah, akhirnya bisa membuat nenek ini tidak khawatir lagi.



Cerita tentang nenek berakhir.



Sepulang mengantar nenek tadi, kita coba telusur wilayah Balandai lagi, masuk ke pemukiman warga yang dipenuhi dengan rumput laut yang dikeringkan, melalui pantai, dan beberapa pekuburan cina, kristen yang tersusun di gunung. Tujuan yang dicari adalah view yang berbeda dari biasanya. Setelah lelah telusur, terpercik ide untuk mengunjungi Masjid yang kemarin ditunda untuk sholat jum’at disana. Masjid Jami Tua Palopo.



Masjid Jami Tua Palopo



Siang yang sudah hampir memasuki waktu duhur itu, membuat saya penasaran mengunjungi masjid tertua kedua di Sulawesi Selatan. Setelah mendengar cerita dari kakak, bahwa disana terdapat pohon cinaguri yang paling besar, dan susunan tembok masjidnya yang hanya disambung dengan menggunakan putih telur, (mirip pembuatan piramida di Mesir). Jadilah kita sholat duhur disana. Subhanallah, benar benar indah dan penuh dengan nilai sejarah disini, Arsitektur yang menarik dengan batu yang berwarna abu abu dan begitu tebal, seukuran tujuh kali lipat dari masjid dikampung saya. Atap masjid yang bersusun tiga, dan pintu masjid yang berwarna coklat dengan pengait (paccala) yang masih model dulu.



Disana sudah terdapat banyak ummat muslim yang sedang menantikan waktu zuhur, sembari melihat lihat perlengkapan sholat dan pakaian muslim yang dijual di pelataran masjid. Walaupun ukuran masjid ini sedikit lebih rendah dari masjid masjid baru yang dibangun saat ini. Masjid tua ini merupakan titik nol kota Palopo. Jadi hitungan kilometer dikota ini dimulai dari masjid ini.



Memasuki ruangan masjid, nuansa religius begitu kental terasa, akhirnya terlihat juga cinaguri yang berbatang paling besar ini. biasanya hanya dijadikan sapu (sejenis sapu lidi untuk menyapu halaman, atau dijadikan kayu penunjuk saat mengaji waktu kecil dulu). Cinaguri ini  merupakan tiang utama yang menyangga empat tiang lainnya di masjid ini. menyangga empat tiang artinya (eppa’ sulapa’) dimana arah mata angin ada empat.



Di masjid ini kita berkenalan dengan seorang gadis cilik yang bernama Rika. Katanya dia senang sekali menghabiskan waktu disiini setiap pulang sekolah. Kadang mengendarai ojek, tak jarang juga dia hanya berjalan kaki. Saat menawari pegang kamera, saya langsung memberikannya, dari dialah saya dapat beberapa informasi mengenai keberadaan masjid ini. Berjalan ke arah cinaguri yang berada dalam ruangan berkaca, itu membuatnya kembali bercerita. Konon katanya, orang yang menebang pohon cinaguri ini berikrar bahwa tidak akan ada lagi pohon cinaguri yang sebesar ini. Makanya sekarang cinaguri yang tumbuh hanya sebesar induk jari. Saya sempat menanyakan mengapa pohon ini dipagari dengan dinding kaca. Ternyata, banyak orang yang mengambil potongan kayu dari pohon tua ini sebagai obat atau semacammnya.



Dari papan informasi yang tertera juga terdapat sejarah singkat masuknya islam ke wilayah wilayah yang ada di sulawesi selatan juga terdapat keterangan skema ukuran masjid tua Palopo.  Terima kasih deik Rika sudah berbagi informasi. See you next time.



Pantai labombo

Masih dihari yang sama, sore disaat acara sudah berlangsung dengan meriah tanpa tepuk tangan dari penonton karena ini bukan pertunjukan, ditemani Nabil yang belum mandi seharian karena memegang janji dari omnya untuk mengajaknya berenang di pantai Labombo. konon kabarnya pantai itu yang paling terkenal di kota Palopo ini. Mencoba menyusuri jalan yang sebelumnya belum pernah kami lewati. Hanya sedikit info dari kakak, jadilah explore pantai terjadi lagi.



Karcis masuk ke pantai ini sebesar Rp. 15.000 dihari libur, berhubung karena ini hari sabtu maka tergolong hari libur, itu berlaku untuk semua kalangan baik itu anak anak, dewasa maupun om – om. Lokasi pantai yang menghadap ke arah timur dan memanjang ini membuat pengelola berusaha meningkatkan wahana wisata didalamnya. Terdapat kolam yang berbatasan langsung dengan pantai, terdapat kebun bunga, gazebo dan tempat memesan makanan / minuman. Banyak keluarga yang menghabiskan waktunya disini, sembari menikmati jus dan kue kue ringan disuguhi dengan pemandangan laut dan angin sepoi darinya.



Tak lama berada di pantai ini, karena hari sudah semakin gelap, dan hujan yang mengguyur di bagian utara kota Palopo awalnya kami pikir hujan itu akan segera mengguyur sampai ke selatan palopo akhirnya kami buru buru. Tapi tidak, sampai ke daerah pegunungan saja yang hujan.



***

Di hari ketiga, saatnya jelajah pasar, menemani mamak dan kakak ipar, sudah dua kali bolak balik ke pasar ini, untuk sekedar membeli oleh oleh. Dan oleh oleh utamanya adalah sagu (sebuah makanan yang terbuat dari batang pohon sagu yang dibungkus dengan daun). Makanan ini menjadi bahan utama dalam pembuatan kapurung (papeda).



Its day to quality time. Mengajak kemanakan kemanakan ke time zone, bakar ikan sama mamak tercinta :* saudara saudara dan istri istrinya (istri saya mana?) sama anak anaknya (anak saya mana?) dan semua semuanya. Semoga keluarga kami akan berkumpul juga di syurga kelak. Amin !!!



Dan malamnya pun kembali bersama bus pesanan yang mengantarkan kami kembali ke daerah asal dengan tidur lelap. Dan ada cerita lucu lagi disini, pas lagi nyenyak nyenyaknya tidur. Mamahnya Nabil, tiba tiba teriak, karena bus oleng “Woi, pak supir kenapa, Pak supir kenapa? (dengan dialek dan ekspresi kaget, pake berdiri lagi). Saya dan beberapa penumpang lain keheranan. “Zonkkk”.  Hahah. Tapi langsung ketawa karena bus dan pak supir tidak apa apa. Katanya dia mimpi dan itu wujud ekspresi dari mimpinya. Sudahlah.

Dari pukul 22.30, akhirnya bisa tiba di Maros dengan selamat sentosa, menghantarkan sagu yang harus dipikul sendiri. Dan kembali ke rutinitas hari senin. SENIN.



Terima kasih untuk perjalanan 27-29 Januari bersama keluarga kali ini.

Pesona Parangloe Waterfall dan Bendungan Bili bili

17:45 0
Ini kisah hari ini
Sembari menghirup udara segar pagi ini.  Mengawali langkah yang masih tertatih berjalan menyusuri hidup yang masih belum pasti arah dan tujuan. Lekuk bumi yang sama saja, daratan, lautan, lembah, rawa, air terjun, bebatuan masih sama, masih ada, masih setia menghiasi bumi yang sudah renta ini.



Pesona Indonesia selalu menawarkan hal yang indah dan menarik untuk menghias retina dan menyejukkan kalbu. Awan yang surut tergulung dan terhanyut dalam lautan langi yang maha luas. Mengganti malam dengan cahaya surya dari ufuk timur.  Selamat pagi, Assalamu alaikum bumi.



Pagi ini kami akan melakukan perjalanan menuju air Terjun Parangloe, yang terletak di Kabupaten Gowa. Dari Maros, kami mengambil jalur alternatif yang dianggap bisa lebih efisien waktu. Dari arah Maros kota, belok kiri mengambil jalur menuju Kostrad Kariango, selanjutnya menuju Carangki, Sipur dan lewat dari jalur yang seharusnya. Di jalur yang salah ini, tiba tiba kesalahan teknis menghadang, ban motor Kahfi bocor dan harus ditambal. Smbari menunggu waktu tambal, kami menyempatkan bertanya kepada orang sekitar tentang jalur alternatif menuju air terjun Parangloe. Ternyata benar,  jalur yang kami lalui sedikit lewat sekitar 3 km. Akhirnya kami kembali setelah ban motor Kahfi ditambal.  Selanjutnya dengan memanfaatkan petunjuk dari GPS  yang sengaja kami nyalakan, kami memasuki wilayah kabupaten Gowa yang disuguhi dengan hijaunya pepohonan di kiri dan kanan jalan umum.





Kondisi jalan yang sudah dibeton membantu perjalanan sedikit lebih cepat, hanya pada bagian tertentu saja yang masih pengerasan. Sebelum memasuki lorong terakhir, disana terpampang spanduk berukuran besar yang isinya menginformasikan bahwa air terjun parangloe ditutup. Tapi setelah membaca keterangan dari beberapa website, air terjun tersebut memang tidak pernah dibuka. Tapi setelah mendapat informasi dari warga sekitar boleh saja memasuki lokasi tersebut, asalkan ingat “Hati – hati”,  Air bah bisa saja datang tiba tiba, apalagi kondisi musim hujan seperti saat itu. Kami hanya memperbaiki niat dan menyerahkan semua sama Allah, yang penting niat kita kesana tidak untuk maksiat, menjudge, apalagi merusak, kami yakin tidak akan terjadi apa apa, yang penting sudah berserah diri saja sama Allah sang pemilik kekuasaan.



Tiba pada tanjakan terakhir menuju air terjun, kondisi jalan sudah lebih parah dari sebelumnya, bebatauan yang sudah semakin besar, mengharuskan kami memarkir motor dan sedikit menggerakan otot kaki. Sekitar 300 meter mendaki ada jalur ke kanan, kondisi jalan tidak begitu memadai untuk highhills, sebaiknya memakai sepatu boot.



Gemuruh air telah terdengar, menandakan lokasi sudah semakin dekat, sesampainya di lokasi kami berada ditebing yang dibawah terlihat susunan batu yang diatasnya melekat air yang silih berganti, terlihat biasan putih kala air mengalir deras. Dan suara gemuruh kian berlagak kala air memecah bebatuan. Terdapat dua susunan tinggi pada air terjun ini. Kami memilih air terjun pada susunan paling bawah, susunannya lebih jelas, terlihat seperti benteng yang sudah rubuh. Dan arah air terjun ke segala arah menambah keelokan air terjun parangloe ini. Sungguh manis suasana yang ditawarkan, seolah mengajak kami berlama lama disini. Kesejukan yang ditawarkan seolah menghapus semua cerita mistis yang mereka ceritakan. Ini ciptaan tuhan, harusnya disyukuri, bukan ditakuti.



Setelah puas mengexplore air terjun Parangloe, memanfaatkan waktu yang tersisa di hari kedua Januari 2017 ini, Kahfi kembali mengganti ban motor yang bocor tadi. Mungkin tambalnya tidak begitu kuat, dan ia memutuskan untuk mengganti ban dalam. This is your ban day. Haha.



Budi yang mempunyai masalah dengan giginya mengajaknya berdamai dengan tidur di naungan pos ronda warga dusun sekitar. Dari titik point saat ini, tersisa sekitar 7 kilometer untuk menuju bendungan bili bili. Sebuah pemandangan yang jarang kami temui di Maros Pangkep. Awalnya kami memasuki kawasan kuliner bili bili, kami kira ini akses menuju bendungan, ternyata bukan. Waduh, pantas saja banyak asap mengepul yang mengeluarkan aroma sedap yang membuat perut teriak riang. Maaf saja, disini bukan tempat yang cocok untuk anak muda yang minim dana seperti kami. Tadi sudah diisi dengan bakso yang ada di Parangloe, itu sudah lebih dari cukup untuk bertahan sampai sore.



Setelah berjalan kembali ke arah Makassar dari arah poros Malino, Akhirnya ketemu juga, parkir yang hanya diperbolehkan di depan gerbang membuat para pengunjung menikmati keindahan yang ditawarkan disini dengan berjalan kaki. Betul, bebas polusi lebih baik untuk paru paru. Hembusan angin yang alami dari arah air yang dibendung seolah memanjakan keempat anak muda untuk segera mengambil pose berfoto.



Bendungan yang cukup panjang ini  tidak kami jelajahi seluruhnya, hanya sampai ke pertengahan. Itupun sudah memberi kesan pada retina dan memori hari ini. Luar biasa perancangan dan pengelolaannya. Pengujung yang datang rata – rata adalah mereka yang telah menghabiskan waktunya di Malino.  Adapun motor yang berlalu adalah motor warga yang ada diseberang bendungan. Mereka membawa sayuran yang berasal dari perkebunan subur di tanah subur ini.



Hari ini cukup dua tempat menarik yang mengisi memori catatan perjalanan kami. Indah untuk dipandang dan berkesan untuk dikenang. Tak lupa membeli oleh oleh rambutan yang berjejer semenanjung jalan dari Malino ini, lagi musimnya.

Surat Untuk Sahabat

00:44 2

Teruntuk dirimu yang sedang mengadu nasib di seberang pulau. Adakah rindu yang sempat mencuat di hatimu kala mengingat kampung halamanmu?. Kampung halaman dimana kamu tumbuh menjadi pemuda dewasa seperti sekarang ini. Tempat dimana tawa dan candamu mulai terukir, engkau rangkai bagai bunga yang masih segar dan wangi dan engkau susun bagaikan permainan puzzle saat kecil dulu.

Adakah cinta yang sempat kau tinggalkan disini ? Atau ada kebencian yang mengharuskanmu meninggalkan kota dimana engkau belajar pahitnya kehidupan. Ahh, mungkin tidak keduanya. Kami tahu engkau pergi untuk sebuah tujuan dan harapan yang engkau genggam bersama kepalan tangan kuatmu saat bekerja disana.

Tujuanmu sungguh mulia dengan tanggung jawabmu sebagai khalifah di muka bumi. Tuhan mengkaruniakan kepada dirimu udara untuk kau campur adukan dengan nafasmu. Serta semangat untuk kau dekap harapan itu bersama kalbu yang selalu bersyukur.

Aku terkadang iri denganmu, iri dengan pencapaianmu yang kalah satu langkah terhadapku. Iri dengan kekuatan hatimu serta keberanianmu untuk mengambil keputusan itu. Merantau. Tapi aku tahu engkau tidak sendiri disana, engkau bersama tuhan yang selalu engkau sembah di setiap sujud yang susah payah engkau bangun. Engkau bersama orang orang terbaik yang menghiasi harimu.

Aku masih disini, berteman dengan orang orang lokal seperti engkau saat masih disini dulu. Aku masih disini, belajar di  kota tempat dimana aku lahir dan menghabiskan seluruh hidupku hingga saat ini. Aku masih disini, bekerja berusaha memenuhi kebutuhan hidupku bersama orang orang yang masih setia kepadaku. Semoga kesetiaan mereka tidak akan meremehkan sesuatu, atau bahkan sampai merebahkannya, semoga tidak. Akupun mendoakan itu untukmu. Semoga engkau mendapatkan orang orang yang setia dan selalu dipertemukan dengan orang orang baik disana.

Cinta, bagaimana dengan cintamu disana? Apakah engkau telah menemukan dambaan hatimu? apakah engkau telah menemukan penguat di setiap jejak langkahmu?, teman bercanda dan menghabiskan waktu untuk bercerita tentang daerahmu dan segala leluconnya? politik penghianatan, dan keserakahan, atau perekonomian, seni,  serta kreasi anak – anak mudanya. Mungkin itu telah engkau ceritakan kepada cintamu. Cinta yang mungkin hanya kepada ibu kostmu, atau orang yang engkau tuakan disana.

Apakah engkau masih berpikir aku masih disini, akan menikah dengan orang orang lokal, membangun keluarga yang warahmah? Mengapa engkau tidak tanyakan itu pada dirimu mungkin saja jodohmu disini, masih engkau simpan hingga nanti kau kembali untuk menjemputnya. Jangan terlalu penasaran dengan jodoh karena kelak engkau pasti menemukannya. Berdoa saja, karena tuhan menciptakan jarak sebagai rasa rindu, dan doa sebagai penghubungnya.

Mungkin adik adikmu telah bertanya kapang kamu pulang. Kapan engkau mengunjungi pusara kakek nenekmu sekedar untuk mengingatkanmu pada kematian? Atau apakah mungkin nanti setelah engkau menikah, baru engkau sempatkan kunjunganmu. Semoga doa yang engkau panjatkan di penghujung sholatmu sampai untuk mereka.

Aku masih disini belajar tentang ekonomi dan keuangan yang menjadi masalah setiap orang. Mulai dari para wakil rakyat, bahkan pelaku bom bunuh diripun mengalami masalah ekonomi. Mungkin ilmu yang kau peroleh sudah semakin bertambah bukan?. Apa kabar dengan ilmu agamamu duhai sahabat, apakah senantiasa ditambah juga ?. Semoga iya, karena alangkah meruginya kita wahai sahabatku jika hanya membiarkan tahun berlalu tanpa bertambahnya ilmu. Karena akan tiba masanya kita yang akan menjadi pengajar, baik untuk istri/suami, juga untuk anak anakmu kelak. Siapa tahu saja tahun depan, atau tahun tahun terdekat, akan ada orang spesial yang akan kita beri pelajaran.

Semoga di penghujung tahun ini banyak bekal ilmu yang diperoleh dari tahun tahun yang telah kita jalani di tempat yang berbeda dan waktu yang berbeda. Juga, semoga harapan (untuk dikabulkan) senantiasa menjadi tujuan dari setiap doa kita. Semoga di tahun yang akan datang keinginan untuk dekat dengan orang orang yang baik nan sholih terwujud. Jauh dari zina dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Maros, 31 Desember 2016

Telusur Celebes Canyon dan Pohon Jomblo Barru

07:14 0

Jum’at 23 Desember 2016. Sepoi angin pagi, begitu hangat dengan candaan dibuahi teh susu hangat dan semangkuk kue. Mohon ijin keluar sebentar hari ini | iya diijinkan. Tujuan hari ini sudah direncanakan seminggu yang lalu, jum’at ada libur jadi disempatkan untuk menjelajahi sebagian kecil kabupaten Barru. Ide ini muncul setelah mendengar cerita dari teman teman juga sedikit jelajah akun instagram dengan hastag #explorebarru. Akhirnya muncul sebuah kesimpulan untuk mengunjungi celebes canyon dan pohon jomblo (bukit lakeppo) yang sama sama berada di kecamatan Tanete Riaja, hanya beda desa saja.

Mulai jalan dari Maros pukul 10.00, setelah sebelumnya menunggu bidadari bidadari (@oktovianasudarlina dan @evhy_novianty) dari kayangan dulu berkumpul di kampus yapim Maros. Cuaca yang cukup cerah dibalik awan gelap yang sempat bergemuruh pagi tadi, tapi sekejap lenyap seolah merestui perjalanan kami hari ini. Rencana ingin mengendarai vespa milik si @boedhizoftware, tapi dengan sedikit perbincangan kecil akhirnya mengendarai moju (motor jupitermx) lagi.

Setelah bertemu keempat pejalan dari Maros, saatnya mengail kawan yang ada di pangkep. @nawirthawonk @kappiteng . Sayang sekali, harus menunggu beberapa menit lagi karena kappiteng yang baru bangun. Pagi menjelang siang menjejal aroma makanan di sekitar wilayah pangkep, dan dibumbuhi dange dari Segeri serta Lemo (Jeruk) yang tersusun rapi di pinggir jalan mengiringi perjalanan kami. Akhirnya, setelah melewati perbatasan pangkep Barru, terlihat pemandangan yang cukup menarik di tepi kanan gunung dan tepi kiri pantai. Disini selalu menjadi tempat andalan kala melewati jalan trans sulawesi - Pare pare.  Di depan pantai ini terdapat sebuah pertamina, kami manfaatkan untuk mengisi bahan bakar sebanyak Rp. 20.000 sudah cukup untuk pergi dan pulang.

Berhubung karena hari ini adalah hari yang berkah (Hari Jum’at) maka kami memanfaatkan peluang besar untuk melaksanakan sholat jum’at beberapa  puluh kilometer dari rumah. Mencoba mencari perbedaan tata cara orang Barru sholat jum’at. Ternyata tidak ada bedanya, kami ummat muslim sama sama melakukan ibadah yang sama, walaupun di tempat yang berbeda. Pada rangkaian shalat jum’at semua ummat muslim sama sama mendengar khutbah dari seorang khatib sama sama sholat dua rakaat dan sama sama merasakan ketenangan. Itulah yang membuat ummat muslim kaya “kebersamaan”. Tidak seperti yang digambarkan resim – resim radikal yang memperebukan kekuasaan di belahan dunia lain. Ba’da sholat jum’at perjalanan pun dilanjutkan, tapi sebelumnya harus mengisi bahan bakar usus dulu. Bukan hanya kendaraan yang butuh bahan bakar. Perut juga.



Jalur menuju Celebes Canyon Desa Libureng Kecamatan Tanete Riaja ini, tepat pada lampu merah pertama yang ditemui setelah memasuki Kabupaten Barru. Belok kanan dan menemui pasar lokal masyarakat Barru. Tak jauh dari pasar ini terdapat jalur rel kereta api yang diatasnya dibangun jembatan layang sebagai jalur transportasi warga. Jalan poros disamping pasar ini adalah jalur yang menghubungkan kabupaten Barru dan Soppeng. Jadi cukup ramai di siang hari, tapi tidak sepadat jalan dikota.


Menurut info dari warga yang sempat kami tanya, ada sekitar sepuluh sampai dua belas kilometer untuk sampai di celebes canyon dari jalan poros.  Tapi itu bukan sebuah halangan apalagi hambatan. Jalur sejauh itu sudah biasa kami lalui. Sekitar tujuh kilometer masuk terdapat papan nama yang menunjuk ke arah kanan (Air terjun wae sai’) tapi itu tidak termasuk ke dalam jadwal kami. Mungkin lain waktu  jika ada kesempatan.

Menyusuri perjalanan yang sejuk, di kiri kanan ada areal persawahan, sesekali kami menyebrangi sungai, dan dihadapan kami terpampang gunung yang berdiri kokoh, bak sebuah benteng pada pertempuran. Tak lama kemudian akhirnya kami menemukan papan petunjuk kecil berwarna kuning, sepertinya dibuat oleh mahasiswa KKN yang pernah tinggal di desa ini. Arah celebes canyon ke arah kiri. Tapi pada saat kunjungan kami, jalan masih sementara di perbaiki. Jadi motor harus disimpan didekat pemukiman warga. Tidak jauh keatas. Karena  hal ini, sehingga membutuhkan stamina yang kuat untuk berjalan. Sebenarnya trip tidak sah apabila tanpa hentakan kaki. Bukan hentakan ban. Setelah berjalan sekitar lima ratus meter melewati pinggiran gunung dan pematang sawah, akhirnya sampai juga ke tempat yang menjadi doa malam itu.

Celebes Canyon, mewah dengan kesan ornamen batu yang begitu lembut. Tersusun tidak beraturan tapi artistik. Seperti biasanya, peralatan memotret pun dikeluarkan. Mencari spot spot keren untuk background. Mungkin waktu tiga puluh menit cukup untuk menyelesaikan perjalan ini. Karena perlengkapan yang  kurang memadai akhirnya kami memutuskan untuk tidak mandi.

#POHON JOMBLO (BUKIT LAKEPPO)

Adalah pohon yang dikelilingi padang rumput yang begitu luas. Sejauh mata memandang, hanya kehijauan yang terpampang. Subhanalah, Masya Allah. Indah sekali mahakarya sang pencipta. Semoga hambanya yang menikmati tempat ini tidak lupa bersyukur. Tempat ini memang masuk dalam jadwal perjalanan, tapi kami tidak tahu jalan menuju kesana.

Akhirnya, setelah beberapa kali bertanya kepada warga sekitar kami pun menemukannya. Kondisi jalan yang tidak begitu memadai, menjadi  masalah bagi motor yang ceper. Kondisi jalan yang berbatu tajam. Membuat motor saya terpingkal pingkal. Tapi tidak masalah demi sebuah keindahan. Karena sesuatu yang indah akan butuh perjuangan untuk menggapainya.

Bagi yang punya kepenatan hidup, bisa menjadikan tempat ini untuk berteriak bebas, sekencang kencangnya sesuai jalur masalah masing masing. Dipuncak bukit yang masih saja hijau oleh rumput ini, sebenarnya terdapat beberapa pohon kecil yang sepertinya akan membantahkan status pohon jomblo yang berada di tengah bukit ini. tapi dibalik puncak bukit juga terpampang keindahan yang tidak kalah manisnya.

Seperti biasa, jurus yang dikeluarkan tetap sama, meraih alat penyimpan gambar. Dan mengambil beberapa gambar pada setiap spot menarik. Sebelum memasuki bukit lakeppo ini, dibagian bawah, terdapat padang rumput yang sengaja diberi pagar. Rumput yang ada didalamnya begitu subur, jika diandaikan itu adalah kasur mungkin sudah banyak yang berbaring ditempat itu. Hipotesisnya, para petani yang memagari rumput itu adalah warga sekitar yang punya ternak kuda. Karena kami sempat bertemu dengan beberapa ekor kuda yang sedang bersantap di padang hijau ini.

Bagaikan bukit pada film masa kecil “teletubies”. Tempat ini pasti memiliki sejarah, pohon ini pasti memiliki  sejarah, dan biarlah sejarah itu tetap tersimpan sebagai pengingat bagi  manusia yang hidup pada generasi selanjutnya.

***




Waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul 17.00, kami harus bergegas kembali. Perjalanan yang melewati tiga kabupaten ini masih butuh waktu sekitar dua jam. Senja yang memudarkan penglihatan sore itu membuat kami menyinggahi rel kereta api yang masih jarang ditemukan oleh kami masyarakat Maros. Sekedar mengambil gambar untuk kenangan. Sebelum kami  masuk, sudah ada beberapa anak muda yang juga menikmati senja di rel ini. Tak lama kemudian, suara lantang adzan magrib pun terdengar. Kami harus segera bergegas, menutup kisah perjalanan hari ini. Tak lupa sebelum menutup perjalanan ini, kami sempatkan membeli dange’ sebagai oleh oleh dari pangkep, rasanya manis. Semanis kisah persahabatan kami.

Negeri di atas awan, Lolai Toraja

06:29 0
Kringkkringg kringking. Denting suara alarm menyeka kegiatan sore ini. Sudah pukul lima sore. Mengingat sebentar malam ada acara duduk sambil melintasi beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan. Kegiatan sore ini dikantor harus dihentikan. Walau ini adalah hari sabtu, pekerjaan yang tidak bisa dibendung banyaknya memaksa kami harus menyelesaikannya di hari libur. Apalagi salah seorang teman sedang cuti, dan pekerjaannya dilimpahkan sepenuhnya.

Sembari mengingatkan kembali posisi teman yang fix berangkat, kami berkomunikasi via line dan BBM. Menyiapkan perlengkapan untuk hangout selama dua hari. Tujuan kami kali ini adalah Lolai (negeri di atas awan) Toraja. Salah satu Kabupaten andalan Sulawesi Selatan dengan objek wisata budaya, alam, dan sejarahnya yang tidak tertandingin oleh kabupaten lainnya. Ke Toraja, Setelah sebelumnya keinginan untuk ketempat ini tertunda karena teman kerja, pemuda asal Medan dan Palu harus kembali ke tempat asalnya.

Pukul 20.00 wita kami berangkat dari kota Maros menyusuri aspal dingin yang baru saja kering diterpa hujan sore tadi. Alam sebagai joki andalan, mengendarai kuda dengan mulus. Tiba di kabupaten pertama setelah melewati Butta Salewangan, bergabung seorang pemuda lokal pangkep dalam perjalanan yang menakjubkan kali ini. Nawir, Halim dan Rustan.

Seperdua malam yaitu pukul 00.30 kami tiba di kabupaten Enrekang. Tepat di hadapan gunung nona yang menatap kami menantang. Tapi segera kami tepis dengan semangkuk mie instan rebus ditambah telur sebagai menu andalan anak muda kere. Warung – warung disini sengaja dibuat dengan tekstur bangunan yang tinggi. Dan dibagian belakang dibuat terbuka agar membuat pengunjung tertarik dengan suasananya. Walaupun sudah tengah malam, samar -samar terlihat bentuk gunung nona di kejauhan. Mungkin akan lebih menarik berada di warung ini pada siang hari. Apalagi dengan hembusan angin sepoi yang memanjakan.

Setelah rehat sejenak. Pukul 01.00 Kami melanjutkan perjalanan dengan oleh oleh teng teng berbentuk balok yang ditawarkan oleh masyarakat lokal, katanya berkhasiat menghilangkan dingin bagi pemuda (sudah kayak selimut). Sekitar pukul 03.00 dinihari kami sampai di pusat kota Makale. Icon kotanya adalah sebuah kolam besar yang ditengahnya terdapat patung pemuda berdiri. Di dalam kolam terbias warna lampu yang wana warni dari hotel dan kantor pemerintah yang ada disekelilingnya. Di tempat ini terlihat rombongan pemuda yang awalnya kami pikir adalah penduduk lokal. Ternyata mereka adalah pengunjung dari Makassar yang juga akan menuju ke lolai (negeri di atas awan).

Kebetulan ini adalah kunjungan pertama kami berlima, dan kami belum tahu jalur menuju Lolai Toraja.  Kami mengikuti rombongan pemuda tadi. Di persimpangan kota Rantepao setelah melewati patung kerbau belang ada sebuah gereja yang disampingnya berjejer rumah tongkonan yang kelihatannya masih baru. Berbelok ke sebelah kiri dan mengikuti petunjuk dari rombongan tadi. Dengan mengendarai motor mereka dengan gesit melintasi jalur mendaki menuju lolai. Dengan jalan yang berliku menanjak, ini sedikit menjadi tantangan buat Alam. Tapi itu mampu dilewati dengan seksama.

Pada tahap awal, ada sebuah lokasi yang dijadikan  basecamp oleh pengunjung yang mungkin juga dari Makassar. Tapi disini tidak terlalu ramai. Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Setelah beberpa kilometer dari lokasi tadi, antrian kendaraan sudah mulai nampak. Walaupun dinihari menjelang subuh begini masih banyak kendaraan yang mengatur posisi parkir. Kabarnya banyak dari mereka yang memang memanfaatkan waktu dinihari menjelang subuh begini untuk menunggu pagi dan tidak ingin menginap di puncak lokasi tongkonan lempe.

Akhirnya kami sampai pada pukul 03.40. Sebelum memasuki lokasi ada sebuah pos yang dijadikan tempat pembelian karcis. Dan biaya karcis masuk Lolai tergolong murah, yaitu Rp. 10.000 per orang. Dan untuk biaya penjagaan (parkir) kendaraan adalah Rp. 10.000. Mencari lokasi di antara tenda tenda yang telah dibangun (disewakan). Akhirnya dapat lokasi disamping kiri tongkonan lempe. Di puncak ini terdapat lima Tongkonan yang kabarnya dari keturunan keluarga Lempe.  Makanya tongkonan pada puncak ini disebut “tongkonan Lempe”. Di dalam tongkonan terdapat pengunjung yang beristirahat. Entah berapa sewa satu malam di tongkonan ini. Tapi untuk tenda ditaksir sekitar Rp. 130.000 – Rp. 150.000 per tenda sudah lengkap dengan kasurnya. 

Tempat sholat di Toraja

Selama perjalan di Toraja, belum pernah nampak sosok masjid. Mungkin belum berjodoh menemui masjid di kabupaten yang mayoritas non muslim ini. Tapi pada Tongkonan Lempe sisi kanan ada pemandangan menarik. Tongkonan ini digunakan sebagai tempat sholat dan ini lokasinya di Lolai. Meskipun tak ada mushollah seperti di tempat wisata pada umumnya, di tempat ini tersedia tikar dan beberapa helai sajadah. Subuh hari secara bergantian pengunjung yang beragama islam memanfaatkan tempat ini untuk menunaikan keajaiban, mensyukuri nikmat dan keindahan pandangan yang diberikan oleh sang penciptanya. Dibelakang tongkonan ini juga terdapat tempat wudhu dan wc umum gratis.

Detik munculnya awan

Pada pukul 05.00 ramainya pengunjung sudah terlihat, mengambil posisi menanti terbitnya matahari (sunrise) di ufuk timur gunung toraja. Setelah cahaya sudah mulai menerpa bumi gerombolan awan mungil datang menampakan wajah manisnya. Mirip ikan koi yang muncul di antara ikan jabir dari sebuah kolam ikan. Subhanallah ! indah dan damai sekali suasana pagi itu. Sungguh besar mahakarya dan maha kuasanya Allah. Hamparan awan yang menyelimuti seluruh wilayah pemukiman di Toraja. Hanya terlihat puncak gunung berwarna biru gelap di timur sana. Rasanya benar benar seperti sedang berada di negeri di atas awan. Mungkin hampir mirip di film perjalanan mencari kitab suci, saat kera sakti saat sedang berada di negeri dewanya.

Pengunjung dengan senjata andalan modernnya mengambil pose respect jika sedang berada di depan kamera. Ada yang memakai tongsis, drone, gopro, DSLR, dan kamera handphone.  Mengabadikan moment berharga di minggu 11 Desember 2016 ini. Kami tak mau ketinggalan, dengan memanfaatkan kotak digital seadanya. Jepretan demi jepretan mulai terdengar. Aktor dengan berbagai gaya sudah mulai beraksi.  

Mungkin pertanyaan yang sering mengganggu calon pengunjung negeri di atas awan Lolai Toraja adalah kemunculan awan yang masih belum bisa diprediksi. Tapi hari itu keberuntungan berpihak, walaupun pada saat berangkat dari Maros masih hujan. Setelah di puncak lolai ini cuaca sangat mendukung. Tips, biasanya akan ada cerah setelah hujan, dan awan akan senang jika menghiasi langit yang pernah basah.  Dan kemunculan awan yang cukup lama yaitu pada pukul 05.00 – kami pulang yaitu pukul 09.00. 



Wisata Tongkonan di Kete' Kesu
Sebelum kembali ke Palopo kami menyempatkan diri mampir untuk wisata budaya dan sejarah di Kete' kesu. Salah satu objek wisata yang tersedia disini. Saat masuk ke gerbang utama, berjejer tongkonan yang beberapa diantaranya di bagian atap sudah ditumbuhi tumbuhan. Salah satu tongkonan yang berukuran besar ternyata adalah sebuah museum. Di dalamnya terdapat benda benda pusaka, koin yang digunakan sebagai alat pertukaran, perlengkapan dapur bahkan sampai pakaian orang dulu toraja terdapat di tempat ini.

Menelusuk ke bagian belakang, terdapat lokasi penguburan mayat. Tapi disini mayat mayat yang sudah lama, karena banyak yang terlihat tinggal tengkorak dan peti yang sudah lapuk.

Like this ya