Pantai Bira dan Hempasan Air Laut di Tebing Apparalang

07:07
Bira, pantai pasir putih terbaik Sulawesi Selatan
Pantai Bira

Ya, tepat hari ketiga pasca lebaran 1438 H (2017 Masehi), 28-30 Juni 2017. Rencana untuk kedaerah pantai pasir putih ini akhirnya terealisasi. Tepat pukul 10.30, sepeda motor yang sudah memenuhi standar untuk melakukan perjalanan jauh akhirnya melakukan tarikan gas pertamanya menuju arah selatan pulau sulawesi ini. Dua kendaraan roda dua ini melaju dengan kecepatan standar, karena satu mobil belum berangkat. Sembari menikmati perjalanan melalui Kabupaten Maros, memasuki kota Makassar dan Melalui kabupaten Gowa akhirnya tiba di kabupaten Takalar untuk menanti waktu sholat dhuhur. 

Mobil yang berisikan sepuluh orang baru berangkat ba’dda duhur. Saya Nawir dan Ariawan mendahului beberapa puluh kilometer, kami menyempatkan singgah di rumah ayah nawir yang ada di Jeneponto, sembari bersilaturahmi menikmati makanan khas lebaran, dan melanjutkan ke masjid Agung kabupaten Jeneponto saat ashar tiba. Ba’dda azhar, perjalanan kembali dilanjutkan. Kabupaten Jeneponto yang terlihat kering di beberapa tempat membuat para penambak garam bahagia, beberapa hektar tambak garam terlihat memenuhi pandangan dengan rumah rumah khas untuk menampung garam.

Alun Alun Pantai Seruni
Setelah melalui tambak garam, Kabupaten Jeneponto yang cukup subur terlihat di sisi selatan ketika hendak memasuki kabupaten Bantaeng. Cukup menarik perhatian, Setelah memasuki kabupaten Bantaeng yang begitu tertata rapi kami menyempatkan singgah di  pantai seruni, setelah memarkir motor yang diatur langsung oleh satlantas bukan juru parkir liar.  Keramaian Kabupaten Bantaeng cukup terlihat disini, pantai yang di depannya berdekatan dengan rumah sakit dan lapangan membuat banyak masyarakat menghabiskan waktu sorenya disini. Ada yang bermain di lapangan sambil berkejaran, ada yang olahraga, dihiasi penjual halus manis yang kebanyakan penjualnya adalah anak anak. Di luar lapangan disediakan dokar yang beberapa pengunjung bisa menyewanya untuk berkeliling sekitar kawasan ini, di pantai seruni juga tersedia beberapa permainan anak - anak membuat kawasan pantai ini menjadi sentral kunjungan pantai yang menarik. Kami tiba disini sekitar pukul 17.00  sembari menunggu teman yang berkendara roda empat tadi. Cafe cafe juga berjejer rapi di tepi pantai seruni ini. kebanyakan dari mereka menjual jus yang bisa membantu melepas dahaga setelah seharian berkendara. Kami memilih box cafe, yang uniknya cafe ini terbuat dari box container yang di modifikasi sekreatif mungkin. Letaknya pun berdampingan dengan masjid yang pada saat waktu sholat tiba, masjid ini full bahkan sampai diteras, itu yang membuatku beranggapan bahwa kabupaten ini cukup beradab, disamping  banyaknya slogan slogan islami semisal “sudahkah anda sholat” yang terpampang di pinggir jalan.

Ba’dda isya perjalanan kembali dilanjutkan, kami sempatkan singgah di “Balla Lompoa Bantaeng”. Jika tampak dari depan ukurannya terlihat lebih kecil dibanding Balla Lompoa Gowa. Tapi desainnya begitu tradisional dengan dinding kayu yang mengkilap diterpa sinar lampu LED. Didalamnya pun begitu khas dengan gemerlap lamming  khas bugis makassar. 

Balla Lompoa Bantaeng
Melewati rentetan pepohonan, rumah warga dan laut kabupaten Bantaeng yang tertata rapi, akhirnya kabupaten Bulukumba pun menyapa. Aktifitas warga sudah tidak begitu nampak karena waktu sudah menunjukan pukul 21.00. Karena saya berada pada tempat duduk kedua di atas sadel motor, saya bebas mengamati keadaan sekitar, bagaimana kondisi masyarakat, bentuk bentuk rumah, tatanan kota dsb. (maklum baru kali ini kesini). Gas kendaraaan kembali dikendorkan kala tiba di alun alun kota Bulukumba. Sembari memastikan tuan rumah yang akan kita datangi rumahnya sudah siap menyambut kami tiga belas pemuda lajang yang katanya hendak berlibur ini.

Pukul 21.30 kendaraan kembali bersandar di salah satu rumah teman kuliah dari Adi (sebut saja leader). Rumah panggung yang berada di jalan poros menuju pantai Bira ini berhadapan langsung dengan rumah warga dan empang setelahnya. Kami yang sedari tadi sudah sangat kelelahan tingkat sedang ini mencoba membersihkan diri, mengisi perut dan mencari pembaringan yang memenuhi tingkat nyaman untuk meluruskan punggung yang mencoba kokoh di atas motor seharian. Bukannya sok kuat, tapi kami hanya ingin merasakan bagaimana si penunggang kuda pada masa peperangan di jaman nabi dulu merasakan kehebatan berkuda (bedanya kami hanya penunggang motor).

Subuh kembali menyingsing, adzan subuh yang sayup sayup kedengaran di telinga orang orang yang kelelahan akan sangat minim bahkan bisa sampai hilang. Jika tidak dibarengi keinginan untuk bangun yang lebih besar habislah kita dengan godaan syetan yang terkutuk.

Suasana pagi sama saja. Sejuk dengan suara burung yang berlomba, kebetulan burung disini berada dalam sangkar, di teras rumah panggung milik Feri. Di seberang jalan terlihat empang milik warga sekitar, dan di kejauhan terlihat kubangan  air yang biasa disebut  laut. Beberapa anak muda yang masih melanjutkan tidurnya dengan lelap, terpaksa harus bangun karena ibu Feri yang sangat antusias menyambut kami selalu mengajak makan dengan ajakan yang sulit kami tolak. Beberapa anak muda yang tahu diri hendak membantu pekerjaan dapur seperti; memasak dan cuci piring mendapat teguran keras (ala guru BP) dari ibu yang memiliki nama Marliang ini. Beliau sangat memuliakan tamu, membuat kami merasa tidak enak karena Feri tidak memiliki saudara perempuan yang bisa membantu ibunya. Untung saja ada tante Feri yang turut membantu . Mereka menyiapkan semua persiapan piknik kami dari segi logistik (makanan), ada ayam dan cobe’  cobenya serta makanan lain.

Pantai Bira

Pukul 10.00 kami melanjutkan perjalanan ke tujuan utama “pantai bira” jarak tempuh dari rumah Feri ke pantai  bira memakan waktu sekitar kurang lebih satu jam. Suasana laut begitu kental terasa ketika sudah melewati gerbang pembayaran karcis yang dikenakan per orang dan per motor. Kami memilih  lokasi istirahat yang bersentuhan langsung dengan pasir. Pasir putih tepatnya. Kami tiba saat matahari menyengat apa saja yang berada diatas kilauan pasir putih ini (harap memakai kacamata). Tapi, meskipun panas begitu menyengat itu tidak menghalangi para pengunjung libur lebaran ini menikmati  suguhan air laut  di salah satu pantai terbaik Sulawesi.  Ada beberapa wahana yang ditawarkan, seperti permainan banana boat, donat boat, dan bagi traveler yang ingin melihat penyu bisa mengunjungi pulau liukang dan pulau kambing.

Keseruan bermain di pantai dengan suguhan pemandangan laut yang begitu biru tidak lengkap tanpa santap siang di gasebo yang disediakan. Tak lupa kami membuka bekal yang dibuatkan oleh ibu Feri, masakannya lezat apalagi dinikmati oleh para pemuda yang kelaparan.

Beberapa teman yang berusaha menikmati  permainan airnya mencoba banana boat, mungkin rasanya sama saja di pantai lain, sensasinya saja yang beda dengan lokasi yang beda dan teman yang beda. Pasir putih yang terhampar di sepanjang pantai membuat anda bebas menikmati dari sisi mana saja. Pengunjung yang tidak mempunyai kerabat di sekitar kabupaten Bulukumba bisa memanfaatkan fasilitas penginapan dengan tarif yang berbeda beda, tergantung jenis dan ukuran penginapan yang diinginkan.

Tebing Batu Apparalang

Petunjuk arah ke Apparalang
Setelah lelah bermain air di pantai bira, kami melanjutkan trip ke Apparalang, suguhan tebing batu menjadi ciri khas tempat dengan karcis hanya Rp. 5000 per motor ini. Lokasinya cukup luas bisa dinikmati dari beberapa spot. Kami memilih spot yang paling tinggi dengan pemandangan cekungan tebing yang terlihat mengerucut ke laut. Setelah puas mengambil gambar disana, kami mencoba spot dimana pengunjung bisa menuruni anak tangga yang berjumlah puluhan. Cukup tinggi dan terbuat dari kayu.  Di bagian bawah, banyak pengunjung yang membasahi tubuhnya dengan loncatan loncatan indah ke laut, mandi disini terlihat lebih menantang, dengan hantaman air laut ketebing yang membunyikan suara hempasan.

Sungguh indah apa saja yang diciptakan tuhan, untuk dinikmati dan dimanfaatkan anak cucu adam. Dari sisi lain mungkin sisi utara apparalang, terdapat spot yang juga menarik, beberapa teman sudah berada disini lebih dulu. Mengambil beberapa gambar lebih banyak  dari  kami. Disisi ini terdapat jembatan kayu yang menghubungkan daratan batu yang ada disisi tebing batu. Pengunjung terlihat begitu bahagia dengan spot spot terbaik pilihan mereka. Kami disini hingga magrib menjelang. Sayang sekali sunset tidak bisa terlihat di  sisi timur Bulukumba ini. karena seharian berpetualang meskipun hanya dua spot yang sempat kami kunjungi (karena akan ada trip selanjutnya kesini), lelah yang menyeringai membuat kami memutuskan untuk kembali ke rumah Feri. Menikmati malam dan esoknya kembali ke kampung halaman.

Perjalanan pulang dihiasi dengan hujan di  beberapa titik di beberapa kabupaten, hanya di Takalar sampai Maros saja yang tidak diguyur hujan, alhamdulillah perjalanan aman aman saja. Semoga seaman dan setentram perasaan yang didamaikan ketenangan hamparan laut dan menghempas perasaan buruk ke tebing apparalang hingga tak tersisah.
 
Tebing Apparalang

Pantai Bira
Nawir-Agus-Idul-Heril-Hanaf-Agung-Surya-Syukur



Artikel Terkait

Latest
Previous
Next Post »

Like this ya